Pugur – #Peluang #usaha di #desa semakin terbuka lebar. Tidak hanya mengandalkan #sektor #pertanian, masyarakat desa kini dapat mengembangkan #bisnis dari #UMKM, pariwisata, #ekonomi #kreatif, #kuliner, #homestay, hingga pengolahan komoditas lokal.
Potensi tersebut terlihat dari sejumlah program pemberdayaan ekonomi masyarakat yang mampu menciptakan perputaran uang hingga miliaran rupiah. Salah satu contohnya adalah pengembangan ekonomi desa melalui Balkondes Karangrejo di Magelang, Suadesa Festival, serta Program Pendekar Dewa di Desa Pagardewa, Muara Enim.
Program-program tersebut menunjukkan bahwa desa sebenarnya memiliki banyak sumber ekonomi yang dapat dikembangkan apabila dikelola secara terencana, melibatkan masyarakat, dan memiliki akses pasar.

Baca: Bisnis Membuat Aksesori Kunci dari Tali Paracord, Peluang Usaha Kreatif dengan Modal Kecil
Bagi calon pelaku usaha, kondisi ini sekaligus menjadi peluang untuk melihat desa bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai pusat pertumbuhan bisnis baru.
Ekonomi Desa Bisa Menjadi Sumber Peluang Usaha
Pengembangan ekonomi desa pada dasarnya bertumpu pada kekuatan lokal. Setiap daerah memiliki karakter berbeda, mulai dari hasil pertanian, perkebunan, perikanan, budaya, kerajinan, kuliner, hingga objek wisata.
Pemerintah sendiri dalam rencana strategis 2025-2029 menempatkan pengembangan ekonomi dan investasi desa, pengembangan kewirausahaan, BUM Desa, serta fasilitasi desa ekspor sebagai bagian dari agenda pembangunan desa.
Artinya, peluang usaha di desa tidak harus selalu berbentuk bisnis konvensional.
Produk sederhana yang berasal dari desa dapat memiliki nilai ekonomi lebih tinggi apabila dikemas, dipasarkan, dan dikembangkan menjadi produk yang memiliki daya tarik bagi konsumen.
1. Peluang Usaha Homestay di Desa Wisata
Salah satu bisnis yang memiliki peluang besar adalah homestay atau penginapan berbasis masyarakat.
Contohnya terlihat di Balkondes Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Kawasan tersebut mengembangkan aktivitas ekonomi masyarakat melalui homestay, kuliner, paket wisata, dan produk ekonomi kreatif.
Balkondes PGN Karangrejo bahkan mencatat omzet hingga Rp3,6 miliar pada 2024. Sekitar 80 persen tenaga kerjanya merupakan masyarakat lokal yang telah mendapatkan pelatihan untuk mengelola homestay, restoran, serta berbagai paket wisata.
Model ini bisa menjadi inspirasi bagi desa lain yang memiliki objek wisata, pemandangan alam, kawasan budaya, maupun lokasi yang menarik untuk dikunjungi wisatawan.
Peluang bisnisnya tidak hanya berasal dari kamar penginapan. Pelaku usaha dapat memperoleh pendapatan tambahan melalui:
- Paket wisata desa
- Penyewaan kendaraan
- Jasa pemandu wisata
- Kuliner khas daerah
- Oleh-oleh
- Penyewaan perlengkapan wisata
- Wisata edukasi
- Aktivitas outbound
- Paket pengalaman budaya
2. Bisnis Kuliner Khas Desa
Kuliner merupakan salah satu usaha yang relatif mudah dikembangkan karena hampir setiap desa mempunyai makanan atau bahan pangan khas.
Pelaku usaha dapat mengolah hasil pertanian maupun perkebunan menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi.
Contohnya adalah makanan ringan, sambal khas, keripik, olahan buah, makanan tradisional, minuman herbal, hingga produk makanan siap saji.
Agar lebih kompetitif, produk kuliner desa perlu memperhatikan tiga hal utama, yaitu rasa, kemasan, dan pemasaran.
Kemasan yang menarik dapat meningkatkan nilai jual. Sementara pemasaran melalui marketplace dan media sosial memungkinkan produk desa menjangkau konsumen di luar daerah.
3. UMKM dan Ekonomi Kreatif
UMKM menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan ekonomi desa.
Suadesa Festival, misalnya, menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat, UMKM, pelaku ekonomi kreatif, serta berbagai pemangku kepentingan untuk memperkenalkan produk lokal dan membuka akses pasar.
Pada Suadesa Festival 2026 yang berlangsung 22-23 Agustus 2026, tercatat 2.792 pengunjung dengan total perputaran ekonomi mencapai Rp1,815 miliar.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan ekonomi yang menggabungkan produk lokal, UMKM, wisata, dan event dapat menciptakan efek ekonomi yang cukup besar.
Bagi pelaku usaha, event desa juga dapat menjadi sarana untuk menguji produk sebelum memasarkannya secara lebih luas.
4. Peluang Bisnis dari Produk Ekonomi Kreatif
Ekonomi kreatif di desa mempunyai potensi yang sangat luas.
Bahan baku lokal dapat diubah menjadi berbagai produk seperti:
- Kerajinan tangan
- Souvenir
- Produk dekorasi rumah
- Fashion berbasis budaya lokal
- Anyaman
- Produk berbahan kayu
- Produk berbahan tanaman lokal
- Cendera mata wisata
- Produk kreatif untuk oleh-oleh
Kunci utamanya adalah menciptakan produk yang mempunyai ciri khas.
Produk yang hanya mengandalkan harga murah akan lebih sulit bersaing. Sebaliknya, produk yang mempunyai cerita, desain unik, kualitas baik, dan identitas daerah berpotensi memiliki nilai jual lebih tinggi.
5. Peluang Usaha Paket Wisata Desa
Desa yang mempunyai potensi wisata tidak harus hanya menjual tiket masuk.
Konsep paket wisata desa dapat menciptakan lebih banyak sumber pendapatan.
Misalnya wisatawan ditawarkan paket satu hari yang mencakup kunjungan ke objek wisata, makan siang dengan menu lokal, aktivitas pertanian, belajar membuat kerajinan, bersepeda, hingga membeli oleh-oleh.
Model bisnis seperti ini memungkinkan uang wisatawan berputar di lebih banyak sektor masyarakat.
Pelaku usaha juga dapat bekerja sama dengan pemilik homestay, kelompok UMKM, petani, pengelola objek wisata, pemuda desa, dan pelaku ekonomi kreatif.
Baca Juga: Peluang Usaha Membuat Kalung Tali Handmade, Bisa Dimulai dari Rumah
6. Agrowisata dan Wisata Edukasi
Potensi pertanian dapat dikembangkan menjadi bisnis wisata.
Sawah, perkebunan, kebun buah, peternakan, hingga perikanan dapat dikemas menjadi agrowisata dan wisata edukasi.
Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat pemandangan, tetapi juga mendapatkan pengalaman.
Contohnya adalah paket memetik buah, memberi makan hewan, belajar menanam sayuran, membuat produk pertanian, atau mengikuti aktivitas masyarakat desa.
Konsep tersebut dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi petani sekaligus membuka lapangan usaha baru.
7. Mengembangkan Komoditas Lokal Menjadi Produk Bernilai Tambah
Salah satu persoalan bisnis desa adalah banyak komoditas dijual dalam bentuk bahan mentah.
Padahal, nilai ekonominya dapat meningkat apabila dilakukan pengolahan.
Misalnya hasil pertanian dapat dikembangkan menjadi makanan olahan, hasil perkebunan menjadi produk kemasan, atau komoditas tertentu menjadi bahan baku industri kreatif.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memperoleh pendapatan dari produksi, tetapi juga dari proses pengolahan dan pemasaran.
Pendekatan berbasis potensi unggulan dan kearifan lokal juga sejalan dengan arah pengembangan kawasan perdesaan yang mendorong produk unggulan sesuai karakter wilayah.
8. Peluang Usaha Berbasis BUM Desa
BUM Desa juga dapat menjadi salah satu kendaraan untuk mengembangkan bisnis di tingkat desa.
Usaha yang dijalankan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi masing-masing wilayah.
Contohnya:
- Pengelolaan wisata
- Perdagangan produk desa
- Pengelolaan pasar
- Penyewaan alat pertanian
- Pengelolaan air bersih
- Pengolahan hasil pertanian
- Jasa transportasi
- Pengelolaan homestay
- Distribusi produk UMKM
Namun, bisnis BUM Desa tetap membutuhkan pengelolaan profesional, pencatatan keuangan yang baik, pemetaan pasar, serta model usaha yang jelas.
9. Peluang Usaha dari Event dan Festival Desa
Festival desa ternyata bukan hanya kegiatan hiburan.
Jika dikelola dengan baik, event dapat menjadi mesin penggerak ekonomi lokal.
Pengunjung yang datang akan membutuhkan makanan, minuman, transportasi, penginapan, oleh-oleh, jasa parkir, hingga berbagai layanan lainnya.
Suadesa Festival 2026 menjadi salah satu contoh bagaimana event dapat menghasilkan perputaran ekonomi hingga Rp1,815 miliar.
Karena itu, desa dapat mengembangkan kalender event tahunan berdasarkan potensi budaya, kuliner, hasil pertanian, olahraga, maupun pariwisata.
10. Peluang Usaha Wisata Berbasis Masyarakat
Contoh lainnya datang dari Desa Pagardewa, Kabupaten Muara Enim, melalui Program Pendekar Dewa.
Program tersebut mengembangkan beberapa sektor sekaligus, mulai dari komoditas karet, UMKM, kebutuhan dasar masyarakat, hingga potensi wisata lokal.
Salah satu yang dikembangkan adalah kawasan Danau Kemiri. Sepanjang 2025, destinasi tersebut mencatat 6.554 kunjungan dengan pendapatan wisata Rp92,48 juta, atau meningkat 191 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa sebuah objek wisata lokal dapat menjadi sumber ekonomi apabila dikelola dan dipromosikan secara konsisten.
11. Peluang Usaha untuk Kelompok Perempuan Desa
Pengembangan ekonomi desa juga dapat membuka peluang bagi perempuan untuk menjalankan usaha.
UMKM rumahan dapat dikembangkan dari berbagai bidang seperti kuliner, kerajinan, fesyen, pengolahan hasil pertanian, hingga perdagangan online.
Keuntungan model usaha tersebut adalah dapat dimulai dari skala kecil dan ditingkatkan secara bertahap.
Pemasaran digital juga memungkinkan produk dari rumah produksi di desa dipasarkan ke konsumen di kota besar tanpa harus membuka toko fisik.
12. Digital Marketing Menjadi Kunci Pengembangan Bisnis Desa
Produk yang bagus belum tentu laku jika tidak dikenal konsumen.
Karena itu, digital marketing menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha desa.
Pelaku UMKM dapat menggunakan media sosial untuk menampilkan produk, membuat video pendek, membangun cerita mengenai asal-usul produk, serta mengarahkan konsumen ke marketplace.
Untuk bisnis wisata, strategi pemasaran digital juga dapat digunakan untuk menampilkan pemandangan, fasilitas, aktivitas wisata, harga paket, serta pengalaman wisatawan.
Dengan pemasaran yang konsisten, batas pasar desa tidak lagi hanya berada di sekitar wilayahnya.
Berapa Modal untuk Memulai Usaha di Desa?
Modal usaha sangat bergantung pada jenis bisnis yang dipilih.
Usaha kuliner rumahan dan produk olahan dapat dimulai dengan modal relatif kecil. Sementara bisnis homestay, wisata, restoran, atau pengolahan komoditas membutuhkan modal lebih besar.
Karena itu, calon pengusaha sebaiknya tidak langsung mengejar bisnis dengan modal besar.
Langkah yang lebih aman adalah melakukan uji pasar terlebih dahulu.
Mulailah dari produk sederhana, lihat respons konsumen, hitung biaya produksi, tentukan harga jual, kemudian kembangkan kapasitas ketika permintaan sudah terlihat.
Cara Menentukan Peluang Usaha Desa yang Potensial
Sebelum memulai usaha, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
1. Kenali Potensi Lokal
Cari tahu apa yang paling banyak tersedia di desa.
Apakah pertanian, perkebunan, perikanan, wisata alam, budaya, kuliner atau kerajinan?
Potensi tersebut merupakan bahan dasar untuk menentukan jenis bisnis.
2. Cari Masalah yang Bisa Diselesaikan
Peluang usaha tidak selalu berasal dari produk.
Jasa juga bisa menjadi bisnis yang menjanjikan.
Misalnya jasa transportasi wisata, pemasaran digital UMKM, pengemasan produk, jasa fotografi, hingga penyediaan perlengkapan wisata.
3. Tentukan Target Konsumen
Tentukan siapa yang akan membeli produk.
Apakah masyarakat desa, wisatawan, konsumen kota, perusahaan, reseller atau pembeli online?
Semakin jelas target pasar, semakin mudah menentukan harga, kemasan dan strategi pemasaran.
4. Hitung Potensi Keuntungan
Jangan hanya melihat omzet.
Pelaku usaha harus menghitung biaya bahan baku, tenaga kerja, transportasi, kemasan, pemasaran, listrik, sewa, hingga biaya lainnya.
Dari perhitungan tersebut dapat diketahui apakah bisnis benar-benar menghasilkan keuntungan.
5. Bangun Kolaborasi
Bisnis desa akan lebih kuat apabila tidak berjalan sendiri.
Pelaku usaha dapat bekerja sama dengan pemerintah desa, BUM Desa, kelompok masyarakat, UMKM, kelompok sadar wisata, koperasi, petani, pemuda, dan pelaku usaha lainnya.
Desa Bisa Menjadi Pusat Pertumbuhan Bisnis Baru
Baca Juga: Ide Bisnis Membuat Gelang Simpul Handmade dengan Modal Kecil
Kisah Balkondes Karangrejo, Suadesa Festival, dan Program Pendekar Dewa menunjukkan bahwa potensi ekonomi desa dapat dikembangkan menjadi berbagai sumber pendapatan.
Mulai dari UMKM, kuliner, homestay, wisata, ekonomi kreatif, komoditas pertanian, event, hingga jasa, semuanya dapat menjadi bagian dari ekosistem bisnis desa.
Yang paling penting bukan sekadar memiliki potensi, tetapi bagaimana potensi tersebut diolah menjadi produk dan jasa yang mempunyai nilai tambah serta memiliki pasar.
Bagi calon pengusaha, desa dapat menjadi tempat menarik untuk membangun bisnis karena bahan baku, sumber daya manusia, budaya, dan potensi wisata tersedia di banyak wilayah.
Dengan pengelolaan yang profesional, pemasaran digital, inovasi produk, serta kolaborasi antar-pelaku usaha, ekonomi desa bukan tidak mungkin berkembang menjadi sumber pendapatan bernilai miliaran rupiah.
Pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal juga menjadi bagian dari arah pembangunan desa yang lebih luas, termasuk penguatan kewirausahaan, BUM Desa, investasi, dan pengembangan desa ekspor.



