Pugur – Memulai #usaha tidak selalu harus dengan #modal besar. Hal yang lebih penting adalah menemukan #ide #bisnis #UMKM yang memiliki #pasar, kemudian mengembangkannya melalui #inovasi, #strategi #pemasaran, kualitas produk, serta perluasan jaringan.
Berbagai peluang usaha sebenarnya bisa ditemukan dari kebutuhan sehari-hari masyarakat. Produk yang terlihat sederhana pun dapat mempunyai nilai ekonomi tinggi apabila dikelola dengan strategi bisnis yang tepat.
Hal tersebut terlihat dari kisah sejumlah pelaku UMKM binaan Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) yang dipaparkan dalam acara Program Bootcamp UMKM Untuk Indonesia (UUI) 2026: Kita Mau Kita Bisa, Menembus Batas, Membuka Pasar Global.

Baca: Dari Limbah hingga Karbon: Peluang Usaha Ramah Lingkungan yang Bisa Jadi Sumber Cuan
Lima bisnis berikut tidak hanya menunjukkan ide usaha yang menarik, tetapi juga memberikan gambaran bagaimana sebuah UMKM dapat berkembang dari pasar lokal hingga membuka peluang ke pasar nasional dan internasional.
1. Bisnis Custom Seragam Korporasi
Salah satu peluang usaha yang menarik adalah bisnis fashion custom untuk perusahaan.
Temasira, yang dikembangkan oleh Ali Eunoia, tidak hanya menawarkan seragam dengan logo perusahaan. Produk yang dibuat berusaha mengangkat cerita, identitas, nilai, dan karakter perusahaan ke dalam desain pakaian.
Konsep tersebut menjadi pembeda dibandingkan bisnis konveksi biasa.
Menurut Ali, proses pengerjaan dimulai dengan memahami nilai, ideologi, serta kebutuhan klien. Setelah itu, kebutuhan tersebut diterjemahkan ke dalam desain dan produk yang sesuai.
Menariknya, Temasira justru menemukan peluang pasar korporasi melalui media sosial dan iklan digital.
Pada awalnya, Temasira belum secara khusus menyusun strategi untuk mendekati perusahaan. Namun, iklan yang dijalankan justru mendatangkan pemilik bisnis yang membutuhkan produk dalam jumlah besar.
Dari sini terlihat bahwa digital marketing dapat menjadi pintu masuk UMKM menuju pasar korporasi.
Temasira kemudian menggunakan pendekatan one-on-one untuk mengetahui kebutuhan calon klien. Produk yang ditawarkan bukan hanya seragam kerja, tetapi juga apparel untuk acara dan merchandise perusahaan.
Bahkan, Temasira pernah menemukan calon klien dengan anggaran sekitar Rp1,5 miliar untuk kebutuhan apparel dan merchandise.
Untuk pelanggan yang ingin melakukan pemesanan custom, Temasira menyediakan custom motif dengan minimum order mulai dari 30 pieces. Pelanggan juga dapat memperoleh rekomendasi material dan desain sesuai kebutuhan, termasuk pilihan express production.
Peluang Usahanya
Bisnis custom apparel memiliki peluang cukup luas karena dapat menyasar:
- Perusahaan
- Komunitas
- Sekolah
- Event organizer
- Organisasi
- Brand
- Instansi
- Acara khusus
Kuncinya bukan sekadar menjual pakaian, tetapi menawarkan solusi branding dan identitas bagi pelanggan.
2. Mengolah Pisang Menjadi Produk Bernilai Tambah
Pisang merupakan salah satu komoditas yang mudah ditemukan di Indonesia. Namun, salah satu persoalannya adalah daya simpan buah pisang yang relatif terbatas.
Kondisi tersebut justru dimanfaatkan Bananania sebagai peluang bisnis.
Pemilik Bananania, Sofyani Mirah, mengembangkan berbagai produk olahan pisang seperti keripik, selai, tepung pisang gluten-free hingga cookies yang menggunakan 100 persen bahan pisang.
Strategi tersebut membuat pisang tidak hanya dijual sebagai buah segar, tetapi diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Bananania juga membangun bisnis dengan melibatkan petani. Karena hasil kebun sendiri belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan bahan baku, perusahaan bekerja sama dengan sejumlah petani.
Untuk menjaga kualitas produk, Bananania menerapkan SOP dan quality control. Bisnis tersebut juga telah menerapkan standar Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dan Good Manufacturing Practices (GMP).
Dari Produk Lokal hingga Pasar Ekspor
Perkembangan Bananania menjadi salah satu contoh bagaimana produk berbasis komoditas lokal dapat memiliki pasar lebih luas.
Produknya telah masuk ke lebih dari 600 outlet dan dipasarkan melalui kanal online maupun offline.
Tidak berhenti di pasar domestik, Bananania juga telah melakukan ekspor ke:
- Kanada
- Malaysia
- Filipina
- Australia
- Amerika Serikat
Perusahaan tersebut juga mempersiapkan ekspansi ke Korea Selatan.
Ke depan, peluang pertumbuhan Bananania masih terbuka melalui perluasan distribusi, ekspor, dan co-branding.
Menariknya, Bananania juga mengembangkan konsep zero waste dengan memanfaatkan kulit pisang sebagai bahan baku enzim yang kemudian digunakan sebagai pupuk.
Kisah ini menunjukkan bahwa satu komoditas dapat dikembangkan menjadi banyak produk sekaligus membuka peluang ekonomi bagi petani dan pelaku usaha di sekitarnya.
3. Bisnis Sambal dengan Cita Rasa Khas
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan budaya makan sambal yang kuat. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh Quinn of Spicy untuk membangun bisnis makanan.
Pemilik Quinn of Spicy, Rudy Yanto, mengembangkan produk sambal dengan memadukan cabai dan andaliman, rempah khas Sumatera Utara.
Kombinasi tersebut menghasilkan rasa pedas sekaligus aroma khas yang menjadi pembeda produk.
Quinn of Spicy berdiri sejak 2020. Bisnis ini kemudian berkembang dari penjualan melalui kanal digital menuju modern trade.
Perkembangannya cukup menarik. Produk Quinn of Spicy disebut telah terjual lebih dari 400 ribu unit di lokapasar, dengan rating 4,5 dari lebih dari 30 ribu penilaian konsumen.
Kapasitas produksinya kini mencapai sekitar 20 ribu pieces per bulan dengan dukungan sekitar 25 pekerja lokal.
Tidak Hanya Mengejar Penjualan
Pengembangan bisnis Quinn of Spicy juga dilakukan melalui pemberdayaan tenaga kerja lokal dan edukasi kepada pelaku UMKM.
Limbah produksi juga dimanfaatkan menjadi pupuk kompos.
Setelah membangun pasar domestik, Quinn of Spicy mulai membidik pasar internasional dengan mengikuti berbagai kegiatan seperti World Food Expo dan Food Hall di Singapura.
Baca: Peluang Usaha Membuat Bunga Kering Dekorasi
Kisah tersebut menunjukkan bahwa bisnis sambal tidak harus berhenti sebagai usaha rumahan. Dengan diferensiasi rasa, branding, kualitas produk, serta strategi distribusi, bisnis makanan lokal dapat memiliki peluang masuk ke pasar yang lebih besar.
4. Bisnis Makanan Sehat
Tren gaya hidup sehat juga menciptakan peluang bisnis yang menarik.
Salah satunya adalah Granola Addict, bisnis yang dikembangkan oleh Steven Kurniawan.
Granola Addict menawarkan berbagai produk berbasis sereal, seperti granola, muesli, premix hingga biskuit.
Pada awalnya, bisnis tersebut berkembang melalui lokapasar. Setelah itu, Granola Addict memperluas penjualan ke pasar offline dan segmen business-to-business (B2B), termasuk sektor perhotelan.
Strategi tersebut menjadi semakin penting ketika pandemi COVID-19 memberikan tekanan terhadap penjualan online.
Alih-alih berhenti, Granola Addict mencari kanal pasar baru dengan masuk ke hotel-hotel.
Strategi tersebut kemudian membuka peluang baru, terutama di Bali yang menjadi salah satu pasar utama perusahaan.
Menurut Steven, masih terdapat ribuan hotel di Indonesia yang belum digarap. Artinya, sektor perhotelan masih menawarkan ruang ekspansi yang cukup besar.
Selain memperluas pasar domestik, Granola Addict juga mempertimbangkan pengembangan ke daerah lain yang mempunyai potensi pasar serta peluang ekspor.
Peluang Bisnis Makanan Sehat
Makanan sehat dapat dikembangkan melalui berbagai model bisnis, antara lain:
- Penjualan online
- Marketplace
- Toko offline
- Hotel
- Restoran
- Kafe
- Supermarket
- B2B
- Hampers
- Ekspor
Pelaku usaha juga dapat menciptakan variasi produk agar konsumen memiliki lebih banyak pilihan.
5. Camilan Sehat dengan Banyak Varian
Peluang bisnis berikutnya datang dari sektor camilan sehat.
Casa Grata hadir sejak 2018 dengan menawarkan makanan ringan yang menggabungkan unsur kesehatan dan cita rasa.
Pemilik Casa Grata, Jane Tanuwijaya, menjelaskan bahwa produknya ditujukan bagi konsumen yang ingin menikmati camilan tanpa mengesampingkan gaya hidup sehat.
Salah satu diferensiasi Casa Grata adalah produk yang gluten-free, sugar-free, vegan, serta telah memenuhi ketentuan halal.
Saat ini Casa Grata memiliki sekitar 10 varian rasa dan terus melakukan pengembangan produk melalui product extension, termasuk cake flavors dan dip.
Strategi tersebut membuat bisnis tidak hanya bergantung pada satu jenis produk.
Memperluas Pasar dari B2C hingga B2B
Casa Grata tidak hanya menyasar konsumen individu atau B2C.
Bisnis tersebut juga mengembangkan pasar B2B melalui berbagai kanal, mulai dari online, offline event, retail, supermarket, corporate hingga ekspor.
Peluang lain yang dibidik adalah sektor:
- Maskapai penerbangan
- Hotel
- Resort
- Buyer internasional
Perluasan pasar kemudian diikuti dengan peningkatan kapasitas dan efisiensi produksi.
Dengan menggabungkan diferensiasi produk sehat, rasa, pilihan varian dan fleksibilitas distribusi, Casa Grata menargetkan produknya dapat semakin mudah diakses konsumen di Indonesia maupun pasar internasional.
Pelajaran Penting dari 5 Kisah Sukses UMKM
Lima contoh bisnis tersebut menunjukkan bahwa peluang usaha tidak selalu berasal dari ide yang benar-benar baru.
Seragam, pisang, sambal, granola dan camilan merupakan produk yang sudah dikenal masyarakat. Namun, para pelaku usaha berhasil memberikan nilai tambah melalui inovasi dan strategi pengembangan pasar.
Ada beberapa pelajaran yang dapat diterapkan calon pengusaha.
1. Cari Masalah yang Bisa Diselesaikan
Bananania memanfaatkan persoalan daya simpan pisang dengan mengolahnya menjadi berbagai produk.
Artinya, masalah dalam sebuah komoditas justru dapat menjadi peluang usaha.
2. Ciptakan Pembeda
Quinn of Spicy menggunakan andaliman untuk menciptakan karakter rasa yang berbeda.
Sementara itu, Temasira tidak hanya menjual seragam, tetapi menawarkan desain yang merepresentasikan identitas perusahaan.
3. Jangan Hanya Mengandalkan Satu Kanal Penjualan
Perjalanan sejumlah UMKM tersebut menunjukkan pentingnya menggabungkan pemasaran online, offline, B2C dan B2B.
Ketika satu kanal mengalami kendala, pelaku usaha masih memiliki sumber pasar lainnya.
4. Perluas Pasar Secara Bertahap
Bisnis yang ingin tumbuh tidak harus langsung mengejar pasar internasional.
Pelaku UMKM dapat membangun pasar lokal terlebih dahulu, kemudian memperluas distribusi ke daerah lain, masuk ke jaringan retail, B2B dan selanjutnya mencoba pasar ekspor.
5. Bangun Sistem Produksi
Ketika permintaan meningkat, bisnis membutuhkan sistem produksi dan pengendalian kualitas yang lebih baik.
Penerapan SOP, quality control, efisiensi produksi dan standar keamanan pangan menjadi semakin penting ketika produk mulai masuk ke pasar yang lebih luas.
Dukungan untuk UMKM agar Naik Kelas
Kelima kisah tersebut merupakan contoh UMKM binaan Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) dalam Program Pemberdayaan UMKM.
SETC merupakan program yang digagas PT HM Sampoerna Tbk. di bawah payung Program Keberlanjutan “Sampoerna Untuk Indonesia”.
SETC memiliki 30 Collaborator Hub di 17 provinsi yang mendampingi lebih dari 2.300 UMKM secara berkelanjutan.
Jejaring tersebut berperan sebagai local enabler untuk memperkuat kemampuan pengusaha UMKM, membuka akses pasar dan meningkatkan daya saing.
Melalui pelatihan, pendampingan, jaringan kolaborasi dan akses pasar, pelaku UMKM diharapkan dapat membangun fondasi bisnis yang lebih kuat sehingga mampu menangkap peluang pertumbuhan.
Baca Juga: Bisnis Membuat Kartu Tebak Kata untuk Anak
Kesimpulan
Lima ide bisnis UMKM di atas memperlihatkan bahwa bisnis dengan omzet besar dapat berawal dari produk yang sederhana.
Temasira mengembangkan seragam dan merchandise korporasi. Bananania meningkatkan nilai pisang melalui berbagai produk olahan. Quinn of Spicy mengembangkan sambal dengan cita rasa khas. Granola Addict memanfaatkan peluang makanan sehat, sedangkan Casa Grata mengembangkan camilan sehat dengan berbagai varian.
Kesamaan dari bisnis-bisnis tersebut adalah keberanian melakukan inovasi, membangun diferensiasi, memperluas pasar dan terus meningkatkan kapasitas usaha.
Bagi calon pengusaha, kisah tersebut dapat menjadi inspirasi bahwa peluang usaha dapat dimulai dari lingkungan sekitar. Yang terpenting adalah memahami kebutuhan konsumen, menjaga kualitas, membangun pemasaran yang tepat dan memiliki strategi untuk mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.
Catatan: Potensi omzet dalam bisnis tidak otomatis menjamin keuntungan. Hasil usaha sangat bergantung pada produk, modal, biaya operasional, pemasaran, kondisi pasar dan kemampuan pengelolaan bisnis.



