Profil Pengusaha Luther Kombong

Biografi Luther Kombong
Meski sukses berbisnis konstruksi justru memunculkan kegalauan. Lantaran fakta dia dan perusahaan sangat tergantung rekanan. Sistem kontrak karya membuat usahanya berhenti, ketika tak ada lagi kontrak kerja sama.
Pengusaha Sawit
Meski banyak ide tak lantas semuanya cocok. Dia membaca itu lewat keadaan Kaltim. Secara umum buat bisnis perhotelan, rumah sakit, dan sekolah belum saatnya. Mau memilih batu bara yang sedang “booming” malah menurutnya terlalu banyak unsur perjudian.
“Saya pikir bisnis ini paling cocok untuk Kal-Tim karena alamnya memang memungkinkan,” ujar Luther.
Idealisme Luther sebagai pengusaha dicoba seketika. Semasa itu, tahun 1998, dia sempat ditawari ijin HPH. Gampangnya, kamu tinggal tebang pohon atau jug bakar pohon, tanami tanaman sawit dan jadi duit dan begitu seterusnya. Ini tak menggoyahkannya karena fokus ada di tanah perkebunan.
“Saya memakai tabungan sendiri dari hasil keuntungan bisnis-bisnis saya sebelumnya,” katanya mengenang.
Karena modal sendiri pantas jikalau pertumbuhan bisnisnya tak cepat. Tak secepat pengusaha sawit yang sudah dimodali kredit bank. “Makanya pertumbuhan kami nggak bisa secepat mereka yang menggunakan kredit bank,” lanjutnya merendah.
Luther masih merasa dirinya bukan siapa- siapa. Tak hentinya ia bersyukur atas jalannya roda kehidupannya. Seorang anak cuma lulusan SMA sampai akhirnya menjadi pegawai negeri dan seterusnya.
Ada aset properti dibelinya di Samarinda Seberang seluas 100 ha, dibeli semasa belum krisis, dan harganya baru Rp.15- 20 ribu per m2. Sekarang tanah tersebut ditaksir seharga Rp.500 ribu per- m2. Nilai asetnya naik sampai satu triliun bukan karena apa.
Prinsip bisnis Luther sederhana kok, ada lima prinsip agar kamu bisa jadi the next Luther Kombong:
“Karena orang kalau sudah percaya akan berani meminjamkan barangnya atau uangnya kepada kami. Kalau kami tidak dipercaya maka hubungan itu akan putus,” tutur Luther yang kini lebih sibuk berpolitik sementara putra pertamanya yang menjalankan bisnis.
“Kita tertinggal jauh dari Malaysia,” tambahnya.
Jaminan keamanan dinilainya lemah banyak perkebunan sawit dirusak warga. Padahal kalau mau pemerintah bisa membuat kebijakan pemberdayaan masyarakat. Belum lagi bunga bank masih cukup tinggi.