#Pugur – #Budidaya Talas Beneng: Komoditas Alternatif Bernilai Tinggi di #Pasar Lokal & #Ekspor – Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, termasuk beragam tanaman umbi-umbian. Salah satu komoditas yang mulai naik daun dalam beberapa tahun terakhir adalah #talas beneng, varietas talas khas Pandeglang, Banten. Nama “beneng” sendiri merupakan singkatan dari besar dan koneng (kuning), yang merujuk pada ciri khas #tanaman ini: berukuran raksasa dengan daging #umbi berwarna kekuningan.
Baca Juga: Investasi Kavling Kebun: Menyulap Lahan Jadi Destinasi Agro-Wisata
Popularitas talas beneng terus meningkat karena kandungan gizi yang tinggi, potensi olahan pangan yang luas, serta peluang pasarnya yang menjanjikan baik di tingkat lokal maupun ekspor. Jika dikelola dengan baik, budidaya talas beneng tidak hanya menjadi solusi diversifikasi pangan nasional, tetapi juga membuka jalan bagi kesejahteraan petani dan pengusaha kecil menengah.

Keunggulan Talas Beneng
Talas beneng memiliki sejumlah keunggulan yang menjadikannya berbeda dari varietas talas pada umumnya:
- Ukuran Umbi Sangat Besar
Umbi talas beneng dapat mencapai bobot 20–40 kilogram per tanaman, bahkan beberapa laporan menyebut bisa lebih besar lagi jika dibiarkan tumbuh lebih lama. Ukuran ini jelas jauh melebihi talas konvensional, sehingga lebih efisien secara ekonomi. - Kandungan Nutrisi Tinggi
Talas beneng kaya karbohidrat kompleks, serat, vitamin B, dan mineral seperti magnesium serta kalium. Dengan tekstur yang lembut setelah diolah, talas ini bisa menjadi alternatif pangan sehat, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan sumber energi bebas gluten. - Daya Adaptasi yang Tinggi
Talas beneng tumbuh baik di lahan tropis dengan curah hujan cukup. Tanaman ini relatif tahan terhadap hama dan tidak membutuhkan pupuk kimia dalam jumlah besar, sehingga mendukung konsep pertanian organik dan ramah lingkungan. - Nilai Tambah Produk Olahan
Tidak hanya diolah sebagai umbi rebus atau goreng, talas beneng juga bisa diproses menjadi tepung bebas gluten, keripik, mie, brownies, kue kering, hingga produk inovatif lain. Hal ini meningkatkan daya saingnya di pasar modern.
Baca Juga: Aquaponik Terpadu: Menggabungkan Budidaya Ikan & Sayuran dalam Satu Sistem
Potensi Pasar Lokal dan Ekspor
Peluang talas beneng terbuka lebar karena tren pangan sehat yang terus berkembang:
- Pasar Lokal:
Konsumsi masyarakat terhadap pangan alternatif selain beras semakin meningkat. Tepung talas beneng dapat menggantikan gandum dalam pembuatan roti, kue, atau mie. Produk ini berpotensi masuk ke pasar ritel, hotel, restoran, hingga katering sehat. - Pasar Ekspor:
Negara-negara maju, seperti Jepang, Korea, dan beberapa negara Eropa, memiliki permintaan tinggi terhadap produk pangan bebas gluten, rendah indeks glikemik, dan kaya serat. Tepung talas beneng memenuhi kriteria tersebut sehingga bisa bersaing dengan komoditas impor lain seperti tepung kentang atau quinoa. - Industri Lifestyle & Kesehatan:
Talas beneng juga cocok untuk tren gaya hidup sehat, seperti diet keto, vegetarian, atau produk makanan organik. Pasar niche ini menawarkan margin keuntungan lebih tinggi dibanding penjualan umbi segar.
Teknik Budidaya Talas Beneng
Untuk memperoleh hasil maksimal, petani perlu memperhatikan langkah-langkah budidaya sebagai berikut:
- Persiapan Lahan
Pilih lahan dengan tanah gembur, memiliki sistem drainase baik, dan tidak mudah tergenang. Lahan perlu dibersihkan dari gulma dan diberi pupuk organik sebagai dasar. - Pemilihan Bibit
Gunakan bibit unggul yang berasal dari kultur jaringan atau anakan sehat. Bibit ditanam dengan jarak tanam 1,5–2 meter agar tanaman tidak saling berebut nutrisi. - Pemeliharaan
- Penyiraman dilakukan sesuai kebutuhan, terutama pada musim kemarau.
- Pemupukan dapat menggunakan pupuk kandang atau kompos.
- Pengendalian hama dilakukan secara alami, misalnya dengan pestisida nabati.
- Masa Panen
Talas beneng dapat dipanen pada usia 1,5–2 tahun. Semakin lama umbi ditanam, semakin besar ukurannya. Selain umbi, bagian daun dan batang juga bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau bahan baku industri.
Strategi Pengembangan Bisnis Talas Beneng
Potensi besar talas beneng tidak akan optimal tanpa strategi bisnis yang tepat. Berikut langkah yang dapat ditempuh:
- Kemitraan Petani dan UMKM
Kerja sama antara petani dan pelaku usaha kecil menengah penting untuk memperluas jaringan produksi hingga pengolahan. Dengan sistem kemitraan, hasil panen tidak hanya dijual mentah tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah. - Diversifikasi Produk
Jangan hanya menjual umbi segar. Produk olahan seperti tepung, keripik, cookies, atau mie berbasis talas beneng memiliki daya tahan lebih lama dan nilai jual lebih tinggi. - Branding dan Sertifikasi
Produk olahan talas beneng perlu memiliki label halal, izin BPOM, hingga standar mutu internasional untuk menembus pasar ekspor. Branding yang kuat juga penting agar konsumen mudah mengenali produk. - Pemanfaatan Teknologi Digital
Pemasaran melalui media sosial, marketplace, hingga platform ekspor online dapat memperluas akses pasar. Strategi digital marketing yang tepat akan membuat talas beneng lebih cepat dikenal secara luas.
Baca Juga: Hidroponik Pekarangan: Cara Memulai Bisnis Sayuran Segar di Rumah
Tantangan yang Perlu Dihadapi
Meski potensinya besar, ada beberapa tantangan dalam pengembangan talas beneng, antara lain:
- Kurangnya Pengetahuan Petani: Masih banyak petani yang belum memahami teknik budidaya modern.
- Keterbatasan Pengolahan Pascapanen: Peralatan pengolahan tepung dan produk turunan masih terbatas.
- Akses Pasar yang Belum Optimal: Produk belum sepenuhnya masuk jaringan distribusi besar atau ekspor reguler.
Untuk mengatasi hal ini, diperlukan dukungan pemerintah, lembaga riset, serta pelaku usaha dalam memberikan pelatihan, permodalan, dan fasilitasi pemasaran.
Kesimpulan
Talas beneng merupakan komoditas alternatif bernilai tinggi yang berpotensi besar dikembangkan di Indonesia. Dengan ukuran umbi yang raksasa, kandungan gizi melimpah, serta beragam produk olahan yang bisa dihasilkan, talas beneng mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal dan menembus pasar ekspor.
Kunci keberhasilan budidaya dan pengembangan bisnis talas beneng terletak pada kemitraan petani, inovasi produk, sertifikasi mutu, serta strategi pemasaran modern. Jika dikelola secara berkelanjutan, talas beneng bukan hanya menjadi sumber pangan alternatif, tetapi juga komoditas unggulan yang memperkuat ketahanan pangan nasional dan meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.



