Biografi Pengusaha Choirul Mahpuduah

Buruh Pabrik Jadi Pengusaha
Memenangkan tuntutan berarti pemecatan Irul tidak sah. Meski perusahaan menuntut ulang atau banding, sampai Mahkamah Agung butuh waktu sepuluh tahun. Berkat tuntutan dipenuhi oleh Hakim maka Irul bisa bekerja kembali.
Dia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Menurutnya ini contoh bagi sesama buruh agar tetap berjuang. Ia juga berharap mereka tidak takut maju ke pengadilan. Untung berkat jaringan aktifis buruh miliknya. Dia tak perlu menganggur berlama- lama. Irul bisa bekerja kembali.
Sayang, setelah berjalan beberapa waktu, usaha jahitan tidak berjalan seperti diharapkan. Setelah memikir ulang apa masalahnya. Dia memutuskan melanjutkan ke bisnis keduanya. Dan mereka mulai membuat aneka kue buat dijajakan.
“Kesal juga rasanya, pelanggan sudah banyak, kemudian dirobak,” luap Irul.
Tetapi ia mengambil hikmah saja peristiwa tersebut. Tidak bisa berjualan tidak membuat menyerah. Apalagi dia menjadi contoh bagi ibu- ibu sekampung. Karena sudah pelanggan bahkan sampai rumah dicari. Mereka mencari Irul sampai ke rumah.
“Lumayan, sekarang keuntungan per- hari mencapai Rp.20 juta,” ujar Irul.
Ada pula yang cuma dititipkan di Pasar Soponyono, Rungkut. Ditambah pesanan dari acara besar seperti hal pernikahan. Memang bisnis aneka kue ini menggiurkan apalagi dikerjakan gotong royong.
Menjadi Pengusaha
“Tidak punya KTP Surabaya, dan disebut tidak punya agunan,” kenang Irul. Cara lain dilakukan olehnya ialah lewat PT. HM Sampoerna Tbk, berupa pelatihan pengembangan usaha Sampoerna. Atau mendapat satu sponsor dari PT. Bogasari; Irul agaknya bisa bernafas lega.
Berkat bantuan sana- sini, mereka berhasil sedikit demi sedikit mengangkat nama Kampung Kue. Sudah berbentuk koperasi modal pun lancar masuk. Sampai mereka sudah punya modal uanng Rp.20 juta.
Melalui pembicara serius ternyata si pengurus berminat. Ia berencana membantu warga kampung. Caranya ialah lewat meminjamkan aneka buku bacaan. Kesempatan itu tidak diabaikan seorang Irul. Bahkan selain buku anak- anak, adapula buku ibu- ibu.
Sejak pukul 04:00, para penjual kue keliling sudah berjubel menunggu. Mereka menunggu kue mereka siap diedarkan. Untuk nama Kampung Kue, sejak 2010, resmi diresmikan sendiri oleh sang penggagas Choirul Mahpuduah. Semenjak itupula nama kampung pendatang itu berubah nama. Pemberian nama itu memang sengaja dilakukan sebagai bentuk brand awareness. Lewat kesepekatan warga, nama Kampung Kue makin diresmikan.
Jumlah produsen kue total 65 orang. Cakupan produsen tidak lagi menyebar di satu gang. Sudah mengular merembet ke gang- gang sekitarnya. Perputaran uang di tempat ini mencapai Rp.25 juta. Varian kue sudah mencapai 70 jenis, seperti onde- onde, lemper, terang bulan, tiwul, ketan, lapis, putri ayu, roti kukus, dan bermacam kue kering. Adapula nasi kuning kotakan seharga Rp.1000- Rp.3000. Pembelian juga termasuk untuk hajatan.
Ibu- ibu Kampung Kue juga sering dipanggil menjadi pembicara. Mereka mengajari cara pembuatan aneka kue enak. Honor dari kegiatan tersebut akan dimasukan ke kas kampung. Menurut suami Irul, Riyadi, yang menikahinya sejak 2001, yang dulunya juga buruh pabrik menyebut usaha mereka lebih menjanjikan. Lebih dari sekedar menjadi buruh pabrik perusahaan. Ia rela keluar perusahaan agar bisa membantu Irul membuat kue.
Sementara itu Irul sendiri masih aktif menjadi aktifis. Meski sibuk mengurusi Kampung Kue, dia tidak lupa akan vokalnya, bahkan diangkat menjadi ketua serikat pekerja rumahan. Sosok tepat untuk digambarkan sebagai pengusaha sosial. Menurutnya, makna dari Serikat Pekerja Rumahan, menyangkut dua karir yang digelutinya: Pertama, mengurusi pekerja rumahan seperti pembuat kue ini. Kedua ya pekerja buruh diluaran sana.



