Pugur – #Kisah #sukses #penjual #bakso di #Lampung ini menjadi bukti bahwa #usaha #sederhana bisa #berkembang besar jika dijalankan dengan #ketekunan, #keberanian dan kemampuan #membaca #peluang. Sempat dipandang sebelah mata karena hanya #berjualan bakso, seorang pengusaha kuliner justru berhasil membangun usaha hingga memiliki sekitar 25 toko yang tersebar di sejumlah kota.
Kisah tersebut dibagikan oleh Restya Ayu melalui akun TikTok pribadinya. Restya menceritakan perjalanan panjang sang ayah yang selama puluhan tahun menekuni bisnis bakso.
Dalam kisah yang dibagikan pada 2021 itu, Restya mengungkapkan bahwa ayahnya pernah diremehkan karena berprofesi sebagai penjual bakso. Namun, anggapan tersebut justru menjadi salah satu pemicu untuk terus membuktikan bahwa pekerjaan apa pun dapat menjadi jalan menuju kesuksesan selama dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Berawal dari Jualan Bakso Sambil Kuliah
Perjalanan bisnis keluarga ini tidak dimulai dengan toko besar maupun modal yang melimpah. Sang ayah awalnya berjualan bakso di Pasar Raja Sabar sambil menjalani kuliah.
Keterbatasan biaya kemudian membuatnya harus berhenti kuliah. Setelah menikah dengan istrinya, mereka pindah ke Bandar Jaya dan hidup dengan menyewa tempat tinggal.
Di Bandar Jaya, sang ayah kembali berjualan bakso di Pasar Bandar Jaya Lama. Sementara itu, sang ibu juga ikut membantu perekonomian keluarga dengan berjualan nasi uduk.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bisnis keluarga ini tumbuh dari perjuangan sederhana. Tidak ada proses instan untuk membangun usaha hingga akhirnya dikenal luas.
Bisnis Bakso Sempat Terpuruk Saat Krisis Moneter
Perjalanan usaha mereka juga tidak selalu berjalan mulus.
Pada 1998, ketika Indonesia mengalami krisis moneter, banyak toko dan usaha terpaksa tutup. Usaha bakso milik keluarga tersebut juga ikut terkena dampaknya.
Setelah kondisi mulai membaik, keluarga itu memutuskan untuk kembali membuka usaha bakso dengan mengandalkan sisa tabungan yang mereka miliki.
Keputusan tersebut kemudian menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan bisnis mereka.
Di tengah banyaknya usaha yang belum kembali beroperasi, persaingan bisnis bakso di sekitar mereka relatif lebih longgar. Pelanggan yang sebelumnya membeli dari berbagai tempat mulai beralih kepada usaha bakso milik keluarga Restya.
Dari sinilah muncul peluang baru yang kemudian mengubah arah bisnis mereka.
Mengubah Bakso Biasa Menjadi Produk Frozen
Salah satu strategi yang membuat bisnis tersebut berkembang adalah mengubah produk bakso menjadi makanan beku atau bakso frozen.
Menurut cerita Restya, ayahnya mulai menjual bakso dalam bentuk kemasan. Produk tersebut ternyata mendapatkan respons positif, terutama dari ibu rumah tangga dan pelaku usaha kuliner.
Langkah tersebut menjadi penting karena produk bakso tidak lagi hanya bergantung pada pelanggan yang datang untuk makan di tempat.
Bakso frozen bisa dibeli untuk persediaan di rumah ataupun digunakan oleh pelaku usaha kuliner sebagai bahan dagangan.
Strategi sederhana inilah yang kemudian membuka peluang pasar yang lebih luas.
Baca: Peluang Usaha Ternak Ayam KUB Modal Minim di Kampung, Lengkap dari Kandang hingga Pemasaran
Bakso Glompong Berkembang hingga Punya Sekitar 25 Toko
Produk tersebut kemudian dikenal dengan nama Bakso Glompong.
Usaha yang awalnya dijalankan dari toko berukuran tidak terlalu besar tersebut berkembang secara bertahap. Dalam laporan detikFood pada Juni 2021, Restya menyebut terdapat sekitar 25 toko yang tersebar di sejumlah daerah.
Cabang-cabang tersebut antara lain berada di Jambi, Palembang, Dumai, Pekanbaru hingga Bengkulu.
Perkembangan tersebut menjadi bagian paling menarik dari kisah bisnis keluarga ini. Usaha yang dahulu dipandang sebelah mata karena hanya berjualan bakso justru mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan berkembang ke berbagai wilayah.
Restya juga menyampaikan bahwa ukuran toko bukan satu-satunya penentu keberhasilan bisnis. Meskipun toko tidak terlalu besar, usaha tersebut tetap dapat menghasilkan pendapatan sekaligus membantu mengurangi pengangguran.
Harga Bakso Frozen Puluhan Ribu Rupiah per Kilogram
Pada saat kisah tersebut diberitakan, Bakso Glompong menjual produk bakso frozen dengan harga sekitar Rp54.000 hingga Rp80.000 per kilogram.
Produk yang ditawarkan tidak hanya bakso frozen. Mereka juga menjual mie untuk melengkapi kebutuhan konsumen dan pelaku usaha kuliner.
Konsep penjualan dalam bentuk frozen memberikan fleksibilitas lebih besar dibandingkan hanya mengandalkan penjualan bakso siap santap.
Produk dapat disimpan dan digunakan sesuai kebutuhan. Hal ini membuat pasar bakso frozen tidak hanya berasal dari konsumen rumah tangga, tetapi juga dari pedagang makanan.
Pernah Bangkrut hingga Harus Menjual Mobil
Di balik keberhasilan memiliki banyak cabang, perjalanan usaha keluarga tersebut ternyata penuh dengan tantangan.
Restya menceritakan bahwa keluarganya pernah mengalami kebangkrutan. Bahkan, mereka sempat menjual mobil untuk menghadapi kondisi keuangan yang sulit.
Namun, kegagalan tersebut tidak membuat mereka berhenti menjalankan bisnis.
Mereka kembali bangkit dan mencoba mempertahankan usaha yang sudah dibangun selama bertahun-tahun.
Kisah ini memperlihatkan bahwa kesuksesan dalam bisnis kuliner bukan berarti tidak pernah mengalami kerugian. Justru kemampuan untuk bertahan dan kembali membangun usaha menjadi bagian penting dari perjalanan seorang pengusaha.
Pandemi Kembali Menguji Bisnis Bakso
Tantangan lain datang ketika pandemi Covid-19 melanda.
Pembatasan aktivitas masyarakat turut berdampak terhadap pendapatan usaha. Restya mengatakan pendapatan keluarga mengalami penurunan.
Meski demikian, keluarga tersebut berusaha tetap menjalani kondisi tersebut dengan sabar. Salah satu hal yang mereka prioritaskan adalah keberlangsungan kehidupan para karyawan.
Dalam kisah yang dibagikan Restya, keluarga tersebut memilih untuk tetap menjalani usaha dengan keyakinan dan tidak menyerah menghadapi keadaan.
Dari Diremehkan hingga Membuka Lapangan Pekerjaan
Hal yang membuat kisah Bakso Glompong menarik bukan hanya jumlah cabangnya.
Perjalanan ini juga menggambarkan perubahan dari usaha kecil menjadi bisnis yang mampu memberikan pekerjaan bagi orang lain.
Dahulu sang ayah hanya dikenal sebagai penjual bakso. Bahkan, menurut Restya, profesi tersebut pernah membuatnya dipandang sebelah mata.
Namun setelah puluhan tahun berjualan, usaha tersebut berkembang dan memiliki jaringan toko di berbagai kota.
Bagi keluarga tersebut, keberhasilan bukan hanya soal mendapatkan keuntungan, tetapi juga bagaimana bisnis dapat memberikan manfaat kepada orang lain.
Pelajaran Bisnis dari Kisah Penjual Bakso
Ada sejumlah pelajaran yang dapat dipetik dari perjalanan usaha Bakso Glompong.
1. Jangan Meremehkan Usaha Kecil
Bisnis yang terlihat sederhana bukan berarti tidak memiliki potensi untuk berkembang.
Jualan bakso yang dimulai dari pasar ternyata dapat berkembang menjadi usaha dengan puluhan toko.
2. Berani Mengubah Model Bisnis
Salah satu titik penting dalam perjalanan bisnis tersebut adalah ketika bakso tidak hanya dijual sebagai makanan siap santap, tetapi dikembangkan menjadi produk frozen.
Perubahan bentuk produk tersebut membuka pasar baru, termasuk konsumen rumah tangga dan pelaku usaha kuliner.
3. Manfaatkan Peluang Saat Kompetitor Berkurang
Ketika krisis membuat banyak usaha tutup, keluarga tersebut justru kembali membuka usaha dengan sisa tabungan.
Kondisi yang sulit ternyata dapat menjadi peluang jika pelaku usaha mampu melihat kebutuhan pasar.
4. Siap Menghadapi Kegagalan
Kebangkrutan hingga menjual mobil menjadi bagian dari perjalanan keluarga tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa perjalanan bisnis tidak selalu naik. Ada masa ketika pengusaha harus menghadapi kerugian sebelum akhirnya kembali bangkit.
5. Bangun Bisnis Secara Bertahap
Kesuksesan Bakso Glompong tidak terjadi dalam waktu singkat.
Usaha tersebut dibangun melalui perjalanan panjang selama bertahun-tahun. Konsistensi menjadi salah satu faktor yang ditekankan dalam kisah Restya tentang perjuangan ayahnya.
Kisah Bakso Glompong Viral di Media Sosial
Kisah perjuangan tersebut kemudian mendapat perhatian dari netizen setelah Restya membagikannya melalui TikTok.
Video yang menceritakan perjalanan sang ayah tersebut ramai mendapat tanggapan. Banyak orang tertarik dengan perjalanan seorang penjual bakso yang pernah diremehkan tetapi mampu mengembangkan bisnisnya hingga ke luar daerah.
Restya sendiri mengaku tidak menyangka cerita tentang perjuangan ayahnya mendapat perhatian luas.
Ia berharap kisah tersebut dapat memberikan semangat kepada orang lain agar tidak mudah menyerah dalam menjalankan usaha.
Inspirasi bagi Pelaku UMKM Kuliner
Kisah Bakso Glompong dapat menjadi gambaran bahwa peluang bisnis kuliner tidak selalu harus dimulai dengan restoran besar.
Produk sederhana seperti bakso dapat memiliki pasar yang luas apabila kualitas produk, distribusi dan model penjualannya dikembangkan dengan baik.
Terlebih, perkembangan bisnis makanan beku memberikan alternatif bagi pelaku usaha untuk menjangkau konsumen yang berbeda.
Namun, setiap bisnis tentu memiliki risiko. Harga bahan baku, biaya operasional, persaingan, distribusi, daya beli konsumen hingga pengelolaan karyawan harus diperhitungkan sebelum melakukan ekspansi.
Kesimpulan
Kisah sukses tukang bakso di Lampung yang dibagikan Restya Ayu menjadi cerita inspiratif tentang perjuangan membangun bisnis dari bawah.
Berawal dari berjualan bakso sambil kuliah, menghadapi keterbatasan modal, terkena dampak krisis moneter, mengalami kebangkrutan hingga menghadapi penurunan pendapatan saat pandemi, keluarga tersebut terus berusaha mempertahankan bisnisnya.
Baca: 15 Peluang Usaha yang Belum Banyak Pesaing di Indonesia, Potensial dan Bisa Dimulai dari Modal Kecil
Pengembangan bakso menjadi produk frozen kemudian membuka peluang pasar yang lebih luas. Bakso Glompong pun disebut telah memiliki sekitar 25 toko di sejumlah daerah pada saat kisah tersebut diberitakan pada 2021.
Kisah tersebut memberikan satu pesan penting: besar kecilnya sebuah usaha pada awalnya bukanlah jaminan bagaimana masa depannya. Konsistensi, kemampuan melihat peluang dan keberanian untuk bangkit setelah mengalami kegagalan dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan membangun bisnis.
Kisah ini juga menunjukkan bahwa pekerjaan yang sederhana sekalipun dapat berkembang menjadi usaha yang memberikan penghasilan sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.



