

Masa pandemi seperti sekarang ini membuat semuanya serba terbatas tapi ada istilah “life must go on“. Akibat pandemi sejak Maret 2020 kita semua stay at home. Aturan adaptasi kebiasaan baru dan protokol kesehatan ketat berlaku. Sekolah dan bekerja pun dari rumah. Supsek COVID 19 melonjak tajam. Kita disarankan ke luar rumah hanya untuk hal yang mendesak saja. Berbulan-bulan berlalu dan sekarang sudah melewati tahun 2021, namun kita semua masih harus berjuang.
Saya paham kalau pandemi ini tidak mudah bagi siapa pun. Membersamai anak sekolah daring dari rumah juga ini jadi sebuah perjuangan berat bagi para orang tua, baik orang tua yang keduanya ngantor, yang memiliki keterbatasan ilmu pengetahuan, atau yang selalu bersitegang dengan anak saat mendampingi mereka belajar.
Saya pribadi dan suami tidak memaksakan akademis anak di masa seperti sekarang ini, just let if flow. Pastinya kami masih punya aturan tegas untuk anak. Kami jadi guru utama di rumah dan berusaha tetap kompak dalam mendidik anak. Membimbing anak kami yang menuju usia remaja tentu orang tua harus kompak. Ada pembagian tugas yang kami terapkan. Suami lebih mengajari anak masalah-masalah teknis, bahkan mereka kompak bongkar laptop, perbaiki mesin, mengajari menggambar, dan yang paling tegas menerapkan disiplin. Bagian saya ada tentu peran sebagai ibu ditambah saya bertanggung jawab untuk akademis sekolah seperti mengajarkan pelajaran, mengecek tugas-tugas, dan mengajarkan soft skill, dan lain sebagainya. Catatan penting adalah bahwa orang tua lah yang punya andil terhadap pembentukan karakter anak.

Kalau mengacu pada cara mendidik anak usia jelang remaja sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW, usia remaja ini ada pada fase kedua. Fase kedua
yaitu tujuh tahun kedua (retang usia 8-14 tahun), anak diperlakukan sebagai “tawanan”. Tawanan di sini memiliki makna yang mendalam, Dalam Islam kedudukan tawanan perang sangat terhormat. Tawanan mendapat haknya secara proporsional, namun tentu saja harus dengan berbagai batasan, larangan, dan kewajiban yang harus ditunaikan.
Di sini arti anak diperlakukan seperti “tawanan” pada usia 7-14 tahun yaitu masa yang tepat untuk mendidik anak dengan haknya namun harus memenuhi kewajiban, memahami larangan, dan bagaimana bertanggung jawab. Hal ini adalah untuk pembentukan pribadi dan pondasinya saat kelak mereka dewasa.
“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang kamu pimpin. Seorang suami (ayah) adalah pemimpin bagi anggota keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadapa apa yang telah dipimpinnya atas mereka.” (HR Muslim)
Beberapa tips parenting anak yang saya dan suami terapkan:
1. Membangun Komunikasi

Cara yang bisa dilakukan orang tua saat berkomunikasi dengan anak, antara lain:
(1) jadi pendengar yang baik,
(2) tidak melakukan judgement terhadap anak,
(3) membawa suasana obrolan serius tapi santai,
(4) tidak mendikte anak,
(5) bangun kepercayaan kepada anak dan apabila ada penyimpangan bisa dibicarakan dengan bijak.
2. Menghadapi pubertas anak
Anak usia belasan biasanya perubahan fisiknya berkembang dengan pesat mulai dari tinggi badan yang melesat dan suara menjadi lebih berat, untuk anak laki-laki khususnya. Mereka pun akan mengalami mimpi basah, di situ lah masa aqil baligh anak.
Sebagai orang tua tentu kita harus mulai belajar dan banyak riset tentang pubertas pada anak. Kebetulan anak saya laki-laki tentu di sini saya banyak melakukan diskusi dengan suami.
Fase ini juga penting sekali, berhubungan dengan ketegasan gender pada anak. Saat ini media informasi sangat mudah diakses, tidak bisa dipungkiri juga faktor lingkungan memiliki andil dan pengaruh besar terhadap perkembangan psikologis dan emosional anak.
Saya dan suami benar-benar memperlakukan anak laki-laki sebagaimana semestinya. Anak saya sudah diberikan hak guna pakai smartphone, namun karna usianya masih jelang remaja tentu saya masih memantau dan mengecek semua yang ada di telepon genggamnya, mulai dari history video, unggahan, bahkan chat.
Pernah anak saya bertanya tentang sebuah kata serapa Sunda yang mengacu ke alat vital, karna dia tidak mengerti maka dia bertanya. Sayapun menjawab dengan cool, menjelaskan secara jelas bukan dengan kiasan, edukasi untuk hal ini penting.
Saya dan suami juga sering mengajaknya mengobrol, nanti biasanya muncul ketertarikan anak terhadap lawan jenis, di situlah peran kita yang sesungguhnya, mengarahkan dan membangun dirinya agar tetap terbuka dengan orang tua dengan tetap merasa nyaman dan aman.
3. Melatih kemandirian

Apa saja yang bisa dilakukan orang tia untuk melatih kemandirian anak:
– Membersihkan kamar sendiri
– Mengelola keuangan sendiri (mana untuk jajan, sedekah, dan menabung)
– Mencuci pakaian sendiri
– Membiasakan membantu orang tua/ kerja bakti di rumah
Mulai dari hal sederhana bisa membentuk karakter anak dan anak siap untuk mengahdapi kehidupan secara mandiri dan baik.
4. Tatantangan Perkembangan Zaman
Kita dihadapkan dengan perkembangan teknologi dan zaman, selain pendidikan karakter, akademis, dan pengetahuan, ada ilmu lain yang harus kita terapkan kepada anak. Sebagian besar dari kita mungkin pernah mendengar banyak pakar memaparkan bahwa kita harus segera mengubah cara mendidik anak-anak. Perkembangan teknologi membuat semua serba canggih dan praktis. Sementara ada kemungkinan 800 juta pekerjaan pada 2030 bisa tergantikan oleh mesin. Di sini pendidikan dan cara mendidik anak adalah tantangan terbesarnya. Pertanyaanya, “Bisa kah kita berkompetisi dengan mesin?”
Cara mendidik anak saat ini harus unik, bukan hanya terfokus pada akademis dan pengetahuan saja. Namun, ada hal penting lain di luar itu semua yang harus kita tanamkan langsung, diantaranya; nilai atau norma, iman, kebebasan berpikir, dan kepedulian terhadap orang lain. Karena kita tahu dan sadar bahwa pengetahuan dan akademis tidak mengajarkan itu. Kita bisa mulai menerapkannya di usia jelang remaja. Semoga anak-anak kita menjadi generasi yang tangguh dan bisa bersinergi dengan perkembangan zaman dan teknologi.



