Pugur – #Program #Makan #Bergizi #Gratis (#MBG) #menjadi #peluang emas bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Salah satu kisah sukses datang dari Yogyakarta. UMKM pengolahan susu bernama Sweet Sundae berhasil mencatat omzet fantastis hingga lebih dari Rp 1 miliar setelah menjadi pemasok susu untuk program MBG. Kisah ini menjadi bukti bahwa UMKM lokal mampu tumbuh pesat ketika mendapat peluang pasar yang tepat dan dikelola dengan strategi bisnis yang matang.
Baca juga: 5 Ide Bisnis Ibu Rumah Tangga 2026 Modal Kecil, Fleksibel, dan Bikin Cuan dari Rumah

Sweet Sundae merupakan UMKM asal Yogyakarta yang bergerak di bidang pengolahan susu. Usaha ini dikelola oleh Yuki Rahmayanti bersama suaminya dan telah dirintis sejak 2008. Namun, bisnis tersebut mulai digarap secara serius pada 2011 hingga akhirnya berkembang menjadi salah satu pemasok susu lokal yang dipercaya mendukung program MBG. Keberhasilan ini tidak datang secara instan, melainkan melalui proses panjang, termasuk menghadapi pasang surut bisnis hingga tantangan besar saat pandemi.
Sejak Februari 2025, Sweet Sundae mulai dipercaya memasok susu untuk program MBG. Awalnya, usaha ini melayani kebutuhan lima Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di sejumlah wilayah Jawa Tengah seperti Magelang, Purworejo, Cilacap, dan Semarang. Setiap SPPG mampu menyerap sekitar 12 ribu kemasan susu ukuran 100 ml per hari. Dengan volume sebesar itu, permintaan susu meningkat sangat pesat dan mendorong Sweet Sundae memperluas kapasitas produksi secara signifikan.
baca juga: Produksi Sarung Tabung Gas Anti Panas: Peluang Usaha Sederhana dengan Nilai Jual Tinggi
Lonjakan permintaan tersebut menjadi titik balik penting bagi pertumbuhan bisnis Sweet Sundae. Untuk menjaga pasokan tetap stabil, mereka tidak hanya mengandalkan pemasok eksternal, tetapi juga mulai membangun peternakan sendiri. Saat ini, Sweet Sundae memiliki sekitar 97 ekor sapi perah yang mampu menghasilkan sekitar 4,5 ton susu segar setiap hari. Langkah ini menjadi strategi penting untuk memastikan kualitas produk tetap terjaga sekaligus menjaga efisiensi rantai pasok.
Keputusan membangun peternakan sendiri menjadi salah satu strategi bisnis paling cerdas yang dilakukan Sweet Sundae. Dengan mengontrol pasokan dari hulu, mereka tidak hanya menjaga kualitas susu, tetapi juga mampu mengamankan produksi dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkat. Strategi integrasi ini menjadi contoh bagaimana UMKM dapat naik kelas dengan membangun sistem usaha yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Meski peluang besar terbuka lebar, Yuki tidak menerima semua tawaran kerja sama begitu saja. Ia justru menerapkan sistem seleksi ketat terhadap mitra SPPG. Sweet Sundae mewajibkan pembayaran tunai di muka untuk menghindari risiko keterlambatan pembayaran yang sempat terjadi pada awal program. Selain itu, pihaknya juga melakukan verifikasi calon mitra untuk memastikan tidak berhadapan dengan broker atau perantara yang berpotensi merugikan bisnis. Setiap kerja sama pun harus melalui Letter of Intent (LOI), penawaran resmi, hingga nota kesepahaman (MoU) jangka panjang.
Langkah selektif ini terbukti efektif menjaga arus kas bisnis tetap sehat. Di tengah tingginya permintaan, Sweet Sundae tetap mampu menjalankan usaha dengan manajemen keuangan yang lebih aman. Strategi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan omzet besar harus diimbangi dengan pengelolaan risiko yang disiplin agar bisnis tetap stabil dan berkelanjutan.
Dari pasokan susu untuk program MBG saja, Sweet Sundae kini mampu membukukan omzet di atas Rp 1 miliar. Capaian ini tidak hanya meningkatkan skala bisnis, tetapi juga membawa dampak langsung bagi kesejahteraan karyawan. Sweet Sundae saat ini mempekerjakan 9 karyawan tetap dan 25 karyawan tidak tetap. Kenaikan omzet membuat perusahaan mampu memberikan bonus tambahan kepada para pekerjanya, menciptakan efek ekonomi yang nyata di tingkat lokal.
Selain memasok susu untuk program MBG, Sweet Sundae juga mengembangkan lini bisnis lain seperti gelato dan butter. Produk gelato mereka dipasarkan di kawasan wisata, sementara butter dan susu dipasok ke hotel, restoran, katering, dan kafe. Diversifikasi ini menjadi langkah penting agar bisnis tidak hanya bergantung pada satu sumber pendapatan. Strategi tersebut membuat Sweet Sundae lebih tangguh menghadapi perubahan pasar dan membuka peluang pertumbuhan yang lebih luas.
Tak hanya sukses di pasar domestik, Sweet Sundae juga berhasil menembus pasar internasional. Produk mereka bahkan telah diekspor ke Uni Emirat Arab (UEA) dengan nilai ekspor mencapai Rp 394 juta. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa UMKM lokal dari daerah pun memiliki peluang besar untuk bersaing di pasar global jika memiliki kualitas produk yang baik, strategi pemasaran tepat, dan dukungan ekosistem yang kuat.
Kesuksesan Sweet Sundae juga tidak lepas dari peran pembinaan berkelanjutan. Yuki mengungkapkan bahwa dukungan Bank Indonesia (BI) sangat membantu perkembangan usahanya, mulai dari pelatihan rutin, pendampingan bisnis, hingga akses pasar yang lebih luas. Sistem pembinaan berjenjang yang diterapkan membuat pelaku UMKM bisa terus berkembang sesuai level bisnisnya. Ini menjadi salah satu faktor penting yang membantu Sweet Sundae naik kelas dan berkembang lebih profesional.
Baca Juga: Peluang Bisnis Produksi Tas Perlengkapan Bayi yang Menjanjikan
Kisah Sweet Sundae menjadi inspirasi kuat bagi pelaku UMKM di seluruh Indonesia. Dari usaha lokal berbasis susu di Yogyakarta, kini mereka mampu tumbuh menjadi pemasok program nasional, mencetak omzet miliaran rupiah, hingga menembus pasar ekspor. Kesuksesan ini membuktikan bahwa peluang besar selalu terbuka bagi UMKM yang adaptif, disiplin, dan berani membangun strategi usaha jangka panjang.


