Tradingan – #Budidaya #bawang #merah ternyata bisa menjadi #peluang #usaha #pertanian yang #menjanjikan apabila #dikelola dengan serius. Hal tersebut #dibuktikan oleh pasangan #suami #istri asal #Malaysia, Azhar Arshad dan Haslina Hassan, yang berhasil memperoleh #keuntungan hingga Rp10 juta dari satu kali masa #panen bawang merah.
Kisah pasangan ini menarik perhatian karena keberhasilan mereka tidak diperoleh secara instan. Keduanya belajar mengembangkan tanaman bawang merah dengan mempelajari metode pertanian dari petani lain, termasuk petani bawang merah di Sumatera Barat, Indonesia.

Kisah Azhar dan Haslina sebelumnya diberitakan oleh detikFood berdasarkan laporan WeirdKaya. Pasangan tersebut mengembangkan budidaya bawang merah di lahan sekitar 2 hektare yang berada di Kampung Pasir Sia, Tembeling Tengah, Malaysia.
Baca: 5 Jenis Kopi untuk Pemula dan Kisah Petani Buah Raup Rp50 Juta per Bulan
Bermodal Lahan 2 Hektare, Raup Rp10 Juta Sekali Panen
Azhar Arshad dan Haslina Hassan memanfaatkan lahan pertanian yang mereka miliki untuk menanam bawang merah berukuran besar. Dari usaha tersebut, mereka disebut mampu memperoleh keuntungan hingga 30.000 Ringgit Malaysia atau sekitar Rp10 juta dalam sekali masa panen.
Angka tersebut tentu menarik perhatian karena menunjukkan bahwa sektor pertanian masih memiliki peluang ekonomi bagi masyarakat yang mampu mengelola lahan secara produktif.
Namun, keuntungan tersebut bukan berarti diperoleh tanpa biaya dan risiko. Budidaya bawang merah membutuhkan proses sejak persiapan lahan, pemilihan bibit, penanaman, perawatan, pengendalian organisme pengganggu tanaman hingga masa panen.
Menurut laporan sumber, tanaman bawang merah yang mereka budidayakan membutuhkan waktu sekitar 75 hingga 90 hari sejak penanaman hingga panen.
Belajar Budidaya Bawang Merah dari Petani Sumatera Barat
Salah satu hal menarik dari perjalanan Azhar adalah bagaimana ia memperoleh pengetahuan mengenai teknik pertanian.
Azhar dan Haslina mengaku pernah mempelajari metode menanam bawang dari petani di Sumatera Barat ketika berkunjung ke Indonesia. Pengetahuan tersebut kemudian menjadi salah satu bekal untuk mengembangkan perkebunan bawang merah mereka di Malaysia.
“Kami belajar metode pertanian dari menanam bawang di Sumatera Barat, Indonesia, selama mengunjunginya. Bagaimana pun banyak hal-hal yang masih harus kami tingkatkan lagi,” kata Azhar seperti dikutip dari laporan yang menjadi sumber berita.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pengetahuan dalam bidang pertanian dapat diperoleh dari berbagai sumber. Petani tidak hanya mengandalkan pengalaman sendiri, tetapi juga dapat belajar dari praktik yang telah dilakukan petani lain.
Budidaya Bawang Merah Membutuhkan Ketelitian
Baca: KIsah Mantan Teknisi Jadi Petani Cabai, Punya 10.000 Polybag dan Panen 1 Ton per Bulan
Bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi dan banyak digunakan sebagai bahan penyedap makanan.
Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa bawang merah dapat diperbanyak secara vegetatif menggunakan umbi maupun secara generatif melalui biji. Tanaman ini juga termasuk tanaman berumur relatif pendek sehingga menarik untuk dikembangkan sebagai komoditas pertanian.
Meski demikian, keberhasilan panen tidak hanya bergantung pada luas lahan. Kondisi tanah, ketersediaan air, sinar matahari, pemilihan varietas, pemupukan dan pengendalian hama serta penyakit menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.
Informasi dari Kementerian Pertanian menyebutkan bahwa bawang merah membutuhkan tanah dengan struktur remah, drainase dan aerasi yang baik, bahan organik yang cukup, serta pH sekitar 5,6 hingga 6,5.
Artinya, calon petani tidak cukup hanya memiliki lahan. Pemahaman mengenai karakteristik tanaman dan kondisi lingkungan juga diperlukan agar modal yang dikeluarkan tidak berakhir pada kegagalan panen.
Tidak Hanya Menanam Bawang Merah
Azhar ternyata tidak hanya mengandalkan bawang merah sebagai sumber hasil pertanian.
Ia juga mempunyai sejumlah kebun lain yang berada di kawasan Sepang, Selangor, Malaysia. Berbagai tanaman dikembangkan di lahan tersebut, mulai dari nanas, kelapa, nangka, pisang hingga durian.
Diversifikasi tanaman dapat menjadi salah satu strategi dalam mengelola usaha pertanian. Dengan tidak hanya mengandalkan satu jenis tanaman, petani dapat memiliki beberapa sumber pendapatan dari sektor perkebunan.
Dalam kisah Azhar, dukungan sang istri juga menjadi bagian penting dalam perjalanan mengembangkan usaha pertanian mereka.
Haslina disebut terus memberikan dukungan kepada suaminya untuk mengembangkan perkebunan dan mewujudkan ambisi menjadi salah satu produsen bawang merah besar di wilayah Pahang.
Produksi Bawang Merah Jadi Tantangan
Azhar melihat masih terdapat peluang untuk mengembangkan produksi bawang merah di Malaysia. Ia menilai produksi bawang merah berukuran besar di negaranya masih tertinggal dibandingkan beberapa negara penghasil bawang, termasuk Indonesia dan India.
Karena itu, pasangan tersebut tidak berhenti pada lahan yang sudah mereka kelola.
Mereka bahkan mempunyai rencana untuk mengembangkan lahan tambahan sekitar 1,8 hektare. Salah satu varietas yang disebut akan dipelajari dan dikembangkan adalah Bima Brebes dari Jawa Timur.
Rencana tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan satu kali panen tidak membuat mereka berhenti melakukan pengembangan. Justru pengalaman dari panen sebelumnya digunakan sebagai modal pengetahuan untuk memperluas usaha.
Bawang Merah Bisa Jadi Peluang Usaha Pertanian
Kisah Azhar dan Haslina dapat menjadi gambaran bahwa budidaya bawang merah mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai usaha pertanian.
Akan tetapi, angka keuntungan Rp10 juta tersebut tidak dapat dijadikan patokan bahwa setiap petani pasti memperoleh hasil yang sama. Pendapatan usaha tani sangat bergantung pada luas lahan, biaya bibit, tenaga kerja, pupuk, pengendalian hama dan penyakit, hasil panen serta harga jual ketika panen.
Karena itu, sebelum memulai budidaya bawang merah, calon petani perlu membuat perhitungan usaha secara matang.
Beberapa hal yang perlu diperhitungkan antara lain:
- Luas dan kondisi lahan
- Harga serta kualitas bibit
- Biaya pengolahan lahan
- Kebutuhan pupuk
- Biaya tenaga kerja
- Pengairan
- Risiko serangan hama dan penyakit
- Biaya panen dan pascapanen
- Harga jual bawang merah
- Akses pasar dan calon pembeli
Dengan perhitungan tersebut, petani dapat mengetahui perkiraan modal, biaya operasional, omzet dan keuntungan secara lebih realistis.
Pentingnya Budidaya Ramah Lingkungan
Penggunaan pupuk dan pestisida juga perlu dilakukan secara bijaksana. Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian menyebut penggunaan bahan kimia secara tidak rasional dapat berdampak terhadap keamanan pangan dan kelestarian lingkungan. Pendekatan seperti pengendalian hayati, pestisida nabati dan pengamatan organisme pengganggu tanaman dapat menjadi bagian dari pengelolaan yang lebih ramah lingkungan.
Dengan demikian, mengejar hasil panen tinggi sebaiknya tetap disertai perhatian terhadap kesehatan tanah, keamanan produk dan keberlanjutan lahan.
Pelajaran dari Kisah Petani Bawang Merah
Kisah Azhar Arshad dan Haslina Hassan memperlihatkan bahwa peluang usaha pertanian tidak selalu harus dimulai dengan teknologi yang rumit.
Pengetahuan, kemauan belajar, pengelolaan lahan dan ketekunan menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka.
Menariknya, mereka tidak hanya belajar dari pengalaman sendiri. Mereka juga mencari pengetahuan dari petani lain, termasuk dari Sumatera Barat. Setelah memperoleh pengalaman, ilmu tersebut kemudian diterapkan di lahan sendiri.
Bagi masyarakat yang tertarik masuk ke sektor pertanian, pendekatan semacam ini dapat menjadi salah satu contoh: belajar terlebih dahulu, memahami karakter tanaman, menghitung biaya, mengenali pasar dan baru kemudian mengembangkan skala usaha secara bertahap.
Baca: Peluang Usaha Pertanian Menjanjikan Dan Cara Memulainya dari Nol
Kesimpulan
Budidaya bawang merah dapat menjadi salah satu peluang usaha pertanian yang menarik jika dikelola dengan perencanaan yang matang. Kisah Azhar Arshad dan Haslina Hassan menjadi contoh bagaimana lahan seluas 2 hektare dimanfaatkan untuk menghasilkan bawang merah dengan keuntungan yang dilaporkan mencapai sekitar Rp10 juta dalam sekali panen.
Perjalanan mereka juga menunjukkan pentingnya belajar dari pengalaman petani lain. Bahkan, metode budidaya yang mereka pelajari dari petani Sumatera Barat menjadi salah satu bagian dari perjalanan mengembangkan perkebunan bawang merah di Malaysia.
Namun, keberhasilan tersebut tidak berarti setiap usaha bawang merah akan menghasilkan keuntungan yang sama. Kondisi lahan, modal, teknik budidaya, hasil produksi dan harga pasar tetap menjadi faktor yang menentukan.
Bagi calon petani, kisah ini dapat menjadi inspirasi sekaligus pengingat bahwa peluang pertanian perlu dijalankan dengan ilmu, perhitungan dan pengelolaan risiko yang baik.



