Pugur – #Bisnis #franchise atau #waralaba masih menjadi salah satu pilihan menarik bagi masyarakat yang ingin memulai #usaha dengan #konsep #bisnis yang sudah tersedia. Dibandingkan membangun #merek dari nol, #sistem #waralaba umumnya menawarkan #konsep #usaha, produk, #identitas merek, serta #pola #operasional yang telah dikembangkan oleh #pemilik bisnis.
Di Indonesia, terdapat sejumlah sektor usaha yang berkembang dalam bisnis waralaba. Berdasarkan keterangan Asosiasi Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) yang dikutip detikFinance pada Oktober 2024, terdapat tiga sektor yang dinilai memiliki potensi untuk terus berkembang, yaitu food and beverage (F&B), jasa, dan ritel.
Ketiga sektor tersebut memiliki karakteristik pasar yang berbeda. Karena itu, calon pengusaha perlu memahami kebutuhan konsumen, modal, lokasi, biaya operasional hingga sistem kemitraan sebelum memilih franchise.

Baca: Peluang Usaha Tahu Jeletot: Modal Mulai Rp5 Juta, Bisa Cuan Jutaan per Bulan
1. Franchise F&B, Bisnis Kuliner yang Masih Diminati
Sektor food and beverage atau F&B menjadi salah satu sektor yang banyak berkembang dalam industri waralaba Indonesia.
Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI), Levita Ginting Supit, menyampaikan bahwa bisnis makanan dan minuman masih memiliki pasar karena masyarakat membutuhkan tempat untuk berbagai aktivitas, mulai dari makan hingga pertemuan informal maupun formal.
Restoran dan kedai kopi misalnya, tidak hanya digunakan untuk makan dan minum. Tempat tersebut juga kerap menjadi lokasi meeting, arisan, reuni hingga kegiatan komunitas. Perubahan kebiasaan masyarakat ini turut menciptakan peluang bagi pelaku usaha kuliner.
Menariknya, sejumlah restoran juga mulai menyediakan ruang khusus seperti VIP room untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang menginginkan tempat lebih privat.
Bagi calon pengusaha, kondisi tersebut menunjukkan bahwa peluang bisnis F&B tidak hanya berada pada produk makanan atau minumannya, tetapi juga pada konsep, pengalaman konsumen, lokasi dan pelayanan.
Contoh franchise F&B yang dapat dikembangkan antara lain:
- Kedai kopi
- Minuman kekinian
- Makanan cepat saji
- Gorengan dan camilan
- Makanan khas daerah
- Dessert
- Restoran keluarga
- Gerai makanan dengan konsep take away
Namun, tingginya minat terhadap bisnis kuliner juga berarti persaingan dapat menjadi sangat ketat. Calon mitra perlu memperhatikan keunikan produk, harga jual, kualitas bahan baku, lokasi serta strategi pemasaran digital.
2. Franchise Jasa, dari Salon hingga Klinik Kecantikan
Sektor kedua yang memiliki peluang adalah bisnis jasa.
Menurut WALI, sejumlah bisnis jasa seperti salon, spa serta klinik kecantikan dan kesehatan masih diminati masyarakat. Kebutuhan terhadap layanan tersebut membuat sektor jasa menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan industri waralaba.
Keunggulan bisnis jasa adalah produk yang ditawarkan tidak selalu berbentuk barang. Konsumen membayar sebuah layanan atau pengalaman yang mereka butuhkan.
Beberapa contoh peluang franchise sektor jasa antara lain:
- Salon kecantikan
- Barbershop
- Spa
- Klinik kecantikan
- Laundry
- Jasa pendidikan
- Bimbingan belajar
- Jasa perawatan kendaraan
- Jasa perawatan dan perbaikan elektronik
Bisnis jasa juga memiliki peluang untuk membangun pelanggan berulang. Misalnya, konsumen salon atau laundry dapat kembali menggunakan layanan secara rutin apabila merasa cocok dengan kualitas pelayanan.
Meski demikian, faktor sumber daya manusia menjadi sangat penting. Kualitas pelayanan, keterampilan tenaga kerja, kebersihan, keramahan dan konsistensi standar operasional dapat menentukan pengalaman pelanggan.
Baca: Petani Bawang Merah Raup Cuan Rp10 Juta Sekali Panen, Ternyata Belajar dari Sumatera Barat
3. Franchise Ritel, Memenuhi Kebutuhan Belanja Harian
Sektor ketiga adalah ritel.
Bisnis ritel memiliki pasar yang luas karena berhubungan langsung dengan kebutuhan konsumen. Contohnya adalah toko kebutuhan sehari-hari, minimarket, toko fashion hingga berbagai konsep ritel khusus.
WALI menyebut bisnis ritel seperti jaringan minimarket dan fashion sebagai sektor yang memiliki permintaan pasar.
Peluang bisnis ritel dapat muncul dari berbagai kategori, seperti:
- Minimarket
- Toko kelontong modern
- Fashion
- Kosmetik
- Produk rumah tangga
- Aksesori
- Toko kebutuhan khusus
- Produk makanan dan minuman kemasan
Kunci bisnis ritel antara lain pemilihan lokasi, pengelolaan stok, harga kompetitif dan kemampuan memahami kebutuhan konsumen sekitar.
F&B Menjadi Sektor Waralaba yang Mendominasi
Selain penjelasan WALI mengenai tiga sektor potensial tersebut, data yang disampaikan Plt Deputi Bidang Usaha Kecil dan Menengah Kementerian UMKM Temmy Satya Permana pada acara FLEI Business Conference Expo 2024 menunjukkan bahwa F&B merupakan sektor yang memiliki porsi terbesar dalam bidang usaha waralaba yang disebutkan.
Dalam data tersebut, F&B mencapai 47,92%, disusul ritel 15,28%, jasa pendidikan formal dan nonformal 10,48%, jasa kecantikan dan kesehatan 10,42%, serta laundry 6,25%. Ada pula sektor lain seperti biro perjalanan, perdagangan, properti, hotel, otomotif serta jasa perawatan dan perbaikan elektronik.
Angka tersebut memberikan gambaran bahwa industri makanan dan minuman memiliki posisi penting dalam perkembangan bisnis waralaba di Indonesia.
Namun, persentase tersebut bukan berarti setiap bisnis F&B otomatis menghasilkan keuntungan. Calon pengusaha tetap perlu melakukan perhitungan usaha secara individual sebelum membeli paket franchise.
Daerah Jawa Menjadi Salah Satu Pusat Perkembangan Waralaba
Dalam kesempatan yang sama, Temmy Satya Permana menyebut bisnis waralaba banyak berkembang di Pulau Jawa, antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Banten.
Kondisi tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi calon pengusaha ketika menentukan lokasi usaha.
Meski demikian, lokasi yang ramai tidak selalu menjadi jaminan keberhasilan. Sebelum membuka gerai, calon mitra perlu melakukan riset sederhana mengenai jumlah calon pelanggan, tingkat persaingan, daya beli masyarakat, harga sewa serta akses menuju lokasi.
Apa yang Harus Diperhatikan Sebelum Membeli Franchise?
Memilih franchise bukan hanya soal mencari merek yang sedang populer. Ada sejumlah komponen yang perlu diperiksa secara menyeluruh.
1. Hitung Modal Awal
Modal tidak hanya berupa harga paket franchise. Calon pengusaha juga perlu menghitung biaya sewa tempat, renovasi, peralatan tambahan, gaji karyawan, listrik, bahan baku, promosi dan dana operasional.
2. Periksa Biaya Royalti
Setiap waralaba dapat mempunyai struktur biaya yang berbeda. Periksa apakah terdapat royalty fee, marketing fee, biaya pembelian bahan baku atau biaya lain yang harus dibayarkan secara berkala.
3. Pelajari Sistem Operasional
Franchise seharusnya memiliki sistem yang jelas. Tanyakan mengenai pelatihan, SOP, pemasok bahan baku, dukungan pemasaran serta pendampingan setelah gerai dibuka.
4. Riset Lokasi
Lokasi sangat penting terutama untuk F&B dan ritel. Pastikan lokasi memiliki target konsumen yang sesuai dengan produk yang dijual.
5. Jangan Terpaku pada Janji Keuntungan
Calon mitra sebaiknya tidak hanya melihat angka omzet atau proyeksi keuntungan yang ditawarkan. Hitung kembali berdasarkan kondisi pasar dan biaya operasional di wilayah masing-masing.
6. Pelajari Perjanjian Kerja Sama
Sebelum membayar atau menandatangani perjanjian, baca seluruh ketentuan kerja sama, termasuk durasi, hak dan kewajiban, penggunaan merek, wilayah usaha, pasokan bahan baku serta ketentuan ketika kerja sama berakhir.
Franchise Murah Belum Tentu Paling Menguntungkan
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan calon pengusaha adalah hanya melihat harga paket franchise.
Paket dengan modal lebih rendah memang dapat menjadi pilihan bagi pemula karena kebutuhan modal awal lebih kecil. Akan tetapi, keuntungan bisnis tetap dipengaruhi oleh penjualan, margin, biaya operasional, lokasi dan kemampuan mengelola usaha.
Sebaliknya, franchise dengan investasi lebih besar dapat memiliki fasilitas lebih lengkap, tetapi biaya tetap yang harus ditanggung juga dapat lebih tinggi.
Karena itu, ukuran yang lebih penting adalah kesesuaian model bisnis dengan modal dan kemampuan pengelola.
Strategi Agar Bisnis Franchise Lebih Kompetitif
Persaingan waralaba membuat pemilik gerai tidak cukup hanya mengandalkan nama merek.
Pemanfaatan media sosial dapat menjadi salah satu strategi pemasaran. Konten video pendek, promo pembukaan, program loyalitas pelanggan dan kolaborasi dengan komunitas lokal dapat digunakan untuk memperkenalkan gerai.
Untuk bisnis F&B, layanan pesan antar dan penjualan melalui platform digital juga dapat membantu memperluas jangkauan pasar.
Sementara itu, bisnis jasa dapat memanfaatkan sistem membership atau paket layanan berkala untuk mendorong pelanggan melakukan pembelian ulang.
Bisnis ritel dapat mengoptimalkan katalog digital, promo khusus pelanggan dan pencatatan stok agar pengelolaan barang lebih efisien.
Baca: 5 Jenis Kopi untuk Pemula dan Kisah Petani Buah Raup Rp50 Juta per Bulan
Kesimpulan
F&B, jasa dan ritel menjadi tiga sektor yang disebut WALI sebagai sektor waralaba yang berpotensi terus berkembang. Data Kementerian UMKM yang disampaikan pada FLEI 2024 juga menunjukkan dominasi F&B dalam komposisi bidang usaha waralaba yang disampaikan saat itu.
Bagi masyarakat yang ingin memulai usaha melalui sistem franchise, peluangnya cukup beragam. Namun, memilih sektor bisnis sebaiknya tidak hanya berdasarkan tren atau popularitas merek.
Perhitungan modal, potensi pasar, lokasi, biaya operasional, sistem kerja sama dan kemampuan mengelola usaha tetap menjadi faktor penting sebelum mengambil keputusan.
Dengan riset yang matang dan pengelolaan keuangan yang disiplin, bisnis franchise dapat menjadi salah satu alternatif bagi calon pengusaha yang ingin memulai usaha dengan sistem yang sudah tersedia.



