Activated carbon yang telah mengadsorpsi SOx, dll.
Di menara adsorpsi dikirim ke menara desorpsi, dipanaskan hingga 350 ° C atau
lebih tinggi, dan diregenerasi. Karbon aktif hasil regenerasi didinginkan
hingga 150 ° C atau lebih rendah di bagian pendingin, kemudian debu dipisahkan
dengan penyaringan dan digunakan kembali di menara adsorpsi. Sebaliknya, gas
SO2 pekat yang diperoleh dicuci dan dimurnikan, kemudian dioksidasi atau
direduksi, dan akhirnya dipulihkan sebagai asam sulfat, unsur sulfur, atau
sejenisnya.

Arang
aktif (activated carbon) memiliki luas permukaan besar karena banyaknya
pori-pori dari permukaannya. Pori-pori tersebut sengaja dibuat untuk
meningkatkan efisiensi penjerapan (adsorption). Semakin banyak pori-pori
terbentuk semakin luas permukaan activated carbon tersebut. Berdasarkan
ukurannya pori-pori tersebut dibedakan menjadi macropore, mesopore dan
micropore. Activated carbon dari tempurung kelapa memiliki banyak micropore,
sedangkan activated carbon dari kayu didominasi mesopore dan macropore
(micropore hanya memiliki porsi kecil) karena struktur kayu juga lebih terbuka.
Untuk activated carbon dari batubara distribusi micropore, mesopore dan
macropore hampir merata. Berdasarkan karakteristik diatas maka activated carbon
tempurung kelapa banyak digunakan untuk menjerap molekul-molekul kecil dari gas
dan cairan. Activated carbon dari tempurung kelapa dan cangkang sawit diperkirakan
paling sesuai untuk proses FGD (flue gas desulphurisation) tersebut.



