
Energi berada pada pondasi dari berbagai aktvitas ekonomi. Untuk memanaskan, mendinginkan, menerangi, komunikasi dan berbagai sistem komputer, transportasi, kerja mekanik selalu membutuhkan energi. Saat ini sebagian besar energi tersebut berasal dari bahan bakar fossil yang ternyata berdampak buruk bagi lingkungan berupa naiknya konsentrasi CO2 di atmosfer (carbon positif) yang mengakibatkan masalah perubahan iklim dan pemanasan global. Selain itu bahan bakar fossil tersebut di nilai juga tidak berkelanjutan (sustainable) karena sumbernya yang terbatas, sehingga kata kunci pengembangan energi untuk masa kini dan akan datang adalah keberlanjutan (sustainibility) tersebut. Dalam Qur’an Surat An Naba’ (78) : 13, Allah SWT menjadikan matahari sebagai penerang atau sumber energi bagi alam raya, lalu menjadikan hujan dari awan (QS 78 : 14) dan dengan air hujan tersebut Allah menumbuhkan biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan (QS 78 : 15) serta kebun-kebun yang rindang (QS 78 : 16).
![]() |
| Mauna Loa Observatory : tahun 1959 tercata konsentrasi CO2 316 ppm, dan tahun 2013 telah mencapai 400 ppm atau meningkat 27% pada kurun waktu setengah abad. Hal ini juga berarti 50% lebih tinggi sebelum era-revolusi industri |
Sinar matahari sebagai sumber energi bagi alam raya sehingga suhu bumi bisa terjaga dan berbagai proses kehidupan bisa berjalan. Termasuk energi fossil tersebut juga berasal dari berbagai tumbuhan yang berphotosintesis pada masa lampau. Mengekstrak atau mengambil energi matahari sebagai energi telah menjadi perhatian manusia saat ini. Dengan cara apa seharusnya manusia mengekstrak energi matahari tersebut? Tidak lain yakni dengan menggunakan pohon-pohon melalui proses photosintesisnya untuk produksi biomasa. Pada energi fossil, proses geologi telah membuatnya terkonsentrasi dan menjadi deposit yang kaya, sedangkan pada energi terbarukan maka keberadaan sinar matahari menjadi sangat vital. Bahkan dari keberadaan berbagai pepohonan tersebut maka mata-mata air akan muncul lalu menjadi sungai-sungai. Pertanyaannya dimana di bumi ini lokasi bisa mendapat curahan matahari yang melimpah ruah dan terus menerus sepanjang tahun? Daerah tropis seperti Indonesia inilah lokasinya sehingga secara alamiah proses photosintesis bisa berjalan dengan optimal dan untuk lebih detailnya bisa dibaca di sini. Lalu mengapa Indonesia yang mayoritas muslim dengan lahan yang luas dengan curahan sinar matahari melimpah ruah tidak juga punya peran berarti pada era bioeconomy dengan energi terbarukan khususnya biomasa sebagai komoditas utamanya? Bukankah Allah SWT juga memerintahkan kita untuk memakmurkan bumi ini (QS 11:61)? Mari kita renungkan bersama.






