Pugur – #Profesi #petani selama ini masih sering dianggap sebagai #pekerjaan yang berat dan #kurang #menjanjikan. Namun, #kisah #Chung Chia Khang, petani asal #Malaysia, menunjukkan bahwa #sektor #pertanian dapat menjadi #peluangusaha dengan nilai #ekonomi yang sangat besar jika dikelola secara serius dan #profesional.
Chung berhasil mengembangkan usaha pertanian hingga mampu menghasilkan sekitar RM400.000 atau setara Rp1,3 miliar per bulan. Perjalanan tersebut tidak terjadi secara instan. Ia memulainya dari lahan yang relatif kecil dengan sekitar 1.000 polybag tanaman.
Kisah Chung menjadi gambaran bahwa pertanian bukan hanya aktivitas untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi bisnis berskala besar.

Baca: 15 Ide Usaha yang Jarang Rugi dan Berpotensi Cuan, Cocok untuk Pemula
Berawal dari 1.000 Polybag di Sekitar Rumah
Chung Chia Khang mulai tertarik menggeluti dunia pertanian sekitar tujuh tahun sebelum kisah suksesnya diberitakan pada 2023. Ia mengawali kegiatan tersebut dengan memanfaatkan area yang tidak terpakai di sekitar rumahnya di Kampung Keroh, Kuala Krai.
Pada tahap awal, Chung hanya membudidayakan sekitar 1.000 polybag tanaman. Dari jumlah tersebut, usaha pertaniannya kemudian berkembang secara bertahap.
Menurut laporan yang dikutip detikFood dari Says dan Kosmo, lahan yang dikelolanya akhirnya berkembang hingga sekitar 12 hektare di kawasan Lojing Highlands, Kelantan.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah usaha yang dimulai dari skala kecil dapat berkembang menjadi bisnis pertanian dengan kapasitas produksi besar melalui pengalaman, kerja keras, dan pengelolaan lahan yang semakin terorganisasi.
Kini Mengelola Lebih dari 100.000 Tanaman
Dari awalnya hanya 1.000 polybag, Chung kemudian mengembangkan pertaniannya hingga mengelola lebih dari 100.000 tanaman.
Tanaman yang dibudidayakan juga tidak hanya satu jenis. Ia menanam berbagai sayuran dan buah-buahan, antara lain:
- Kubis
- Jagung
- Tomat
- Seledri
- Daun bawang
- Lobak
- Kacang panjang
- Melon cantaloupe
Diversifikasi tanaman menjadi salah satu bagian penting dari model usaha pertaniannya. Dengan menanam berbagai komoditas, hasil produksi tidak hanya bergantung pada satu jenis tanaman.
Bagi pelaku usaha pertanian, pola seperti ini dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam membangun bisnis karena permintaan, harga, dan masa panen setiap komoditas dapat berbeda.
Produksi Kubis Hampir 1 Ton Setiap Hari
Salah satu komoditas utama yang dibudidayakan Chung adalah kubis.
Dari sekitar 40.000 tanaman kubis, ia disebut mampu menghasilkan hampir satu ton kubis setiap hari. Jika digabungkan dengan berbagai tanaman lainnya, total produksi pertaniannya mencapai sekitar 40 hingga 70 ton tanaman per bulan.
Skala produksi tersebut membuat kegiatan pertanian Chung tidak lagi sekadar usaha individu dalam skala kecil. Hasil panen sudah masuk ke dalam rantai distribusi yang lebih luas.
Hasil pertaniannya dikirim kepada pedagang besar di Kampung Raja, Cameron Highlands, sebelum kemudian diekspor ke Singapura.
Omzet Mencapai Rp1,3 Miliar per Bulan
Dengan skala produksi yang besar, Chung mengungkapkan bahwa dirinya mampu memperoleh sekitar RM400.000 atau sekitar Rp1,3 miliar per bulan.
Namun, angka tersebut perlu dipahami sebagai pendapatan atau hasil usaha yang diberitakan pada saat kisah tersebut dipublikasikan, bukan jaminan keuntungan bagi setiap petani.
Besarnya hasil usaha Chung juga dipengaruhi oleh skala lahan, jumlah tanaman, volume produksi, akses pasar, harga komoditas, serta jaringan distribusi yang telah dibangunnya.
Karena itu, kisah ini lebih tepat dilihat sebagai contoh bagaimana pertanian dapat dikembangkan menjadi bisnis berskala besar, bukan sebagai patokan bahwa setiap usaha tani pasti menghasilkan angka serupa.
Mendirikan Lojing Farmers
Setelah mengembangkan pertanian, Chung kemudian mendirikan perusahaan bernama Lojing Farmers.
Ia mengaitkan perkembangan pendapatannya antara lain dengan kenaikan harga sayuran. Dalam laporan yang dikutip detikFood dari Kosmo, harga sayuran saat itu disebut meningkat lebih dari 50 persen dibandingkan satu atau dua tahun sebelumnya.
Chung juga melihat bahwa tanaman yang dibudidayakan menggunakan metode fertigasi memiliki peluang untuk dikomersialkan dan bahkan dikembangkan untuk pasar ekspor.
Hal tersebut menunjukkan bahwa bisnis pertanian modern tidak berhenti pada kegiatan menanam dan memanen. Pengusaha perlu memikirkan produksi, kualitas, distribusi, pemasaran, hingga akses ke pasar yang lebih luas.
Mengenal Potensi Usaha Pertanian dengan Sistem Fertigasi
Fertigasi merupakan metode budidaya yang menggabungkan pemberian air dan nutrisi kepada tanaman melalui sistem irigasi.
Dalam konteks usaha, sistem seperti ini dapat membantu petani mengelola pemberian air dan nutrisi secara lebih terukur. Namun, penerapannya tetap membutuhkan pengetahuan mengenai tanaman, kondisi lahan, kebutuhan air, nutrisi, biaya instalasi, serta pemeliharaan.
Bagi calon pengusaha yang ingin masuk ke sektor pertanian, teknologi budidaya dapat menjadi salah satu bagian yang dipelajari untuk meningkatkan efisiensi produksi.
Dari Kursus Pertanian hingga Mendapat Bantuan Modal
Baca: Ide Bisnis Membuat Wax Sachet untuk Lemari, Pewangi Dekoratif yang Bisa Dijual dari Rumah
Kesuksesan Chung juga tidak terlepas dari proses belajar.
Minatnya terhadap pertanian muncul setelah mengikuti kursus pertanian yang diselenggarakan oleh RISDA (Rubber Industry Smallholders Development Authority).
Menariknya, Chung mengikuti program tersebut setelah didaftarkan oleh ibunya.
Setelah mengikuti program tersebut, ia memperoleh bantuan sebesar RM10.000 atau sekitar Rp34,4 juta melalui program Kegiatan Ekonomi Tambahan RISDA untuk membantu mengembangkan kawasan pertaniannya.
Kisah ini memperlihatkan pentingnya pengetahuan dan akses terhadap program pendukung bagi calon pelaku usaha pertanian.
Modal memang penting, tetapi kemampuan mengelola usaha, memahami teknik budidaya, membaca pasar, dan membangun jaringan pemasaran juga menjadi bagian penting dalam pengembangan bisnis.
Peluang Usaha Sayuran di Indonesia
Kisah Chung Chia Khang dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia yang tertarik dengan peluang usaha pertanian.
Indonesia memiliki berbagai jenis sayuran yang dapat dibudidayakan, mulai dari kubis, cabai, tomat, sawi, selada, kangkung, bayam, mentimun hingga berbagai komoditas hortikultura lainnya.
Usaha tersebut tidak harus langsung dimulai dengan lahan puluhan hektare.
Calon petani dapat memulai dari skala kecil menggunakan:
- Polybag
- Lahan pekarangan
- Greenhouse sederhana
- Hidroponik
- Sistem fertigasi
- Kebun komunitas
- Lahan sewa
Setelah produksi dan pemasaran mulai stabil, skala usaha dapat dikembangkan secara bertahap.
Kunci Bisnis Pertanian Bukan Hanya Produksi
Salah satu pelajaran penting dari kisah Chung adalah bahwa keberhasilan bisnis pertanian tidak hanya ditentukan oleh banyaknya tanaman.
Produksi yang besar harus diimbangi dengan pasar yang mampu menyerap hasil panen.
Karena itu, calon pengusaha sebaiknya memperhatikan beberapa hal berikut:
1. Pilih Komoditas yang Memiliki Pasar
Sebelum menanam, pelajari kebutuhan pasar di wilayah sekitar. Jangan hanya memilih tanaman karena sedang populer.
2. Hitung Biaya Produksi
Biaya benih, pupuk, nutrisi, tenaga kerja, air, listrik, pestisida, peralatan, kemasan, transportasi dan sewa lahan harus diperhitungkan.
3. Bangun Jaringan Pembeli
Petani dapat menjual hasil panen melalui pasar tradisional, pengepul, pedagang besar, restoran, hotel, supermarket, pasar modern maupun kanal penjualan langsung kepada konsumen.
4. Jaga Kualitas Produk
Kualitas dan konsistensi menjadi penting ketika petani ingin masuk ke pasar yang lebih besar.
5. Pelajari Teknologi Pertanian
Teknologi seperti fertigasi, hidroponik, greenhouse dan sistem irigasi modern dapat dipelajari sesuai kebutuhan dan kemampuan modal.
6. Jangan Bergantung pada Satu Komoditas
Diversifikasi dapat dipertimbangkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu jenis tanaman. Namun, diversifikasi juga harus disesuaikan dengan kemampuan pengelolaan dan permintaan pasar.
Kisah Petani Sukses dari Indonesia
Selain Chung Chia Khang, sumber yang menjadi rujukan artikel ini juga menyebut kisah Ulus Pirmawan, petani dari Lembang, Bandung.
Ulus dikenal sebagai petani yang membudidayakan berbagai jenis sayuran, seperti kubis, brokoli, buncis dan selada.
Ia juga pernah mendapatkan penghargaan di Singapura untuk produk baby buncis pada 2014, 2015 dan 2016. Produk yang dihasilkannya disebut dibudidayakan secara organik.
Kisah Ulus menunjukkan bahwa peluang usaha pertanian juga dapat berkembang melalui peningkatan kualitas produk dan akses pasar yang lebih luas.
Peluang Ekspor Produk Pertanian
Salah satu bagian menarik dari bisnis Chung adalah hasil pertaniannya tidak hanya dipasarkan di dalam negeri.
Hasil panen dikirim kepada pedagang besar sebelum kemudian diekspor ke Singapura. Hal ini memperlihatkan bahwa ketika kapasitas produksi dan kualitas sudah memenuhi kebutuhan pasar, produk pertanian memiliki peluang masuk ke rantai perdagangan lintas negara.
Bagi pelaku usaha di Indonesia, ekspor hasil pertanian tentu membutuhkan persiapan yang jauh lebih kompleks, termasuk kualitas produk, kontinuitas pasokan, standar keamanan pangan, pengemasan, logistik, dokumen perdagangan dan persyaratan negara tujuan.
Karena itu, ekspor sebaiknya dipandang sebagai tahap pengembangan bisnis setelah fondasi produksi dan pasar domestik berjalan dengan baik.
Pelajaran dari Kisah Chung Chia Khang
Ada sejumlah pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan Chung.
Pertama, usaha tidak selalu harus dimulai dengan modal dan lahan besar. Chung memulai dari sekitar 1.000 polybag.
Kedua, skala bisnis dapat berkembang secara bertahap. Dari area sekitar rumah, ia kemudian mengembangkan pertanian hingga sekitar 12 hektare.
Ketiga, diversifikasi produk dapat menjadi bagian dari strategi bisnis. Chung membudidayakan berbagai sayuran dan buah-buahan.
Keempat, pasar menjadi bagian penting dalam bisnis pertanian. Hasil panen Chung memiliki jalur distribusi menuju pedagang besar dan pasar ekspor.
Kelima, pengetahuan dan pelatihan dapat membantu calon petani memahami cara mengembangkan usahanya.
Baca Juga: Peluang Usaha Membuat Lilin Mini untuk Souvenir
Pertanian Bisa Menjadi Peluang Bisnis
Kisah Chung Chia Khang memberikan gambaran bahwa sektor pertanian dapat dikembangkan menjadi usaha dengan skala ekonomi besar.
Namun, keberhasilan tersebut tidak terjadi hanya karena menanam sayuran. Ada proses panjang berupa belajar, mengembangkan lahan, meningkatkan jumlah tanaman, mengelola produksi, membangun jaringan pemasaran, serta memanfaatkan peluang pasar.
Bagi masyarakat yang sedang mencari peluang usaha, pertanian dapat menjadi salah satu sektor yang layak dipelajari. Usaha bisa dimulai dari skala kecil dan dikembangkan sesuai kemampuan modal, lahan, keterampilan serta akses pasar.
Angka Rp1,3 miliar per bulan dalam kisah Chung merupakan hasil usaha yang diberitakan pada 2023 dan bukan jaminan pendapatan bagi pelaku usaha lain. Meski demikian, perjalanan dari 1.000 polybag hingga mengelola lebih dari 100.000 tanaman menunjukkan bahwa bisnis pertanian dapat berkembang apabila dikelola secara serius, terukur dan berorientasi pasar.
Catatan sumber: Artikel ini dikembangkan berdasarkan laporan detikFood yang terbit 16 Maret 2023, dengan sumber yang disebut dalam laporan tersebut antara lain Says dan Kosmo. Data angka pendapatan dan perjalanan usaha merupakan kondisi yang diberitakan pada periode tersebut, sehingga tidak dapat dianggap sebagai angka terkini pada 2026.



