Profil Wahyu Adji Evrawood

Pengalaman pengusaha ini melanggar hak paten begitu berkesar. Pendiri Evrawood hanyalah anak dari keluarga biasa bercita- cita sukses. Dia ingin menjadi pengusaha. Baru sukses setelah melewati aneka masalah. Ketika dewasa dia dikenal sebagai pemilik Evrawood.
Menjadi Pengusaha

Lebih mudah
“Kelemahan waktu itu branding -nya. Waktu itu orang pikirannya merek itu nomor satu. Adidas bikin kantung plastik pun laku mahal dijual. Beda dengan lokal meskipun produknya berkualitas,” ujarnya lagi, menambahkan realita kewirausahaan sekarang.
Fokusnya adalah menyasar perusahaan- perusahaan. Gunanya adalah memenuhi permintaan mereka, yang rata- rata, ada untuk kebutuhan pegawainya. Sebut saja ada sebuah perusahaan Surabaya yang memasan tas darinya, untuk tas bepergian ataupu buat umroh dan haji.
Hal- hal seperti keterlambatan memenuhi pesanan mulai terjadi. Untuk mendapatkan industri yang mau kerja untuk mereknya juga gampang- gampang susah. Mereka akan memilih mendahulukan pesanan besar, dan masalahnya ialah kala itu Adji baru saja memulai.
“Salah satu pasalnya, jika terjadi keterlambatan, kami akan mengutip denda,” terang Adji.
Dari sekedar membuatkan tas travel atau memenuhi kebutuha perusahaan, Adji ingin punya brand sendiri, akhirnya, ia punya brand fashion -nya sendiri yakni Ortiz. Merupakan tas kasual bagi kamu yang mana pasar produknya manyasar Malaysia dan Singapura.
“Jadi, standar kualitasnya internasional,” kata Adji.
Berkat kasus pelanggaran hak paten, Adji baru tau “dari situ baru saya tau, pendaftaran paten yang diakui secara internasional harus di Singapura.” Akibat pristiwa tuntutan tersebut makalah ia harus membatalkan nilai kontrak vendor. Adji terpaksa berhenti berproduksi selama dua bulan.
“Kalau bahasa bisnisnya itu potential loss. Saya harus bayar ke mereka Rp.600 juta karena saya gagal untuk memenuhi target 5.000 tas yang mereka pesan,” jelasnya.
Dia meminta tenggang waktu kepada vendor. Meminta untuk bisa membayar mundur. Modalnya hanyalah satu yakni kepercayaan diri yang tinggi. Selain itu karena selama berbisnis tidak ada masalah. Adji yang juga menjaga kepercayaan mereka.
Dari nol usahanya punya brand terbaru yakni Evrawood. Bahkan untuk menanggulangi hal- hal sebelumnya, maka, ia langsung bergegas mendaftarkan paten ke Singapura. Dia lantas merekrut orang- orang baru. Dia fokus pada kualitas bahan serta cara pembuatannya.
Kapasitas produksinya mencapai 1.000 item, jikalau di dalam dijual dikisaran 400.000, maka pasaran di luar negeri akan mencapai Rp.1,8 juta- Rp.2,5 juta.



