Pugur – #Sebuah #kisah #inspiratif dari #Provinsi #Kepulauan #Bangka #Belitung menunjukkan bahwa #lahan #bekas #tambang yang selama ini dianggap sulit #dipulihkan ternyata masih memiliki peluang untuk kembali #produktif. Dengan #kreativitas, pengetahuan, kerja keras, dan ketekunan, lahan pasir bekas tambang timah bahkan dapat ditanami semangka, buah naga, kelengkeng, cemara laut hingga berbagai jenis sayuran.
Kisah tersebut menjadi bagian dari cerita tentang orang-orang yang oleh para penggiat pariwisata Bangka Belitung disebut sebagai “orang gila”. Istilah tersebut bukan dalam arti sebenarnya, melainkan sebagai ungkapan penghormatan kepada mereka yang berani berpikir berbeda, mengambil langkah di luar kebiasaan, serta terus bekerja membangun daerah dari tingkat masyarakat.
Salah satu sosok yang disebut dalam kisah tersebut adalah Iswandi, yang berupaya mengembangkan desanya menjadi desa wisata. Pada awalnya, gagasan itu sempat diragukan karena Belitung dikenal sebagai daerah pertambangan.
Baca: Produksi Daun Jeruk Bubuk untuk Bumbu: Peluang Usaha Rumahan yang Menjanjikan
Namun, seiring waktu, wisatawan mulai datang dan bahkan menginap di Desa Terong. Upaya Iswandi bersama masyarakat dan perangkat desa kemudian membuktikan bahwa kawasan yang memiliki sejarah pertambangan tetap dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata.
Desa tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu desa wisata andalan, bukan hanya di tingkat kabupaten dan provinsi, tetapi juga mendapat pengakuan hingga tingkat nasional dan ASEAN.

Dari Desa Wisata hingga Lahan Bekas Tambang
Kisah mengenai keberanian berpikir di luar kebiasaan juga terlihat dari sejumlah penggiat lain di Kepulauan Bangka Belitung. Nama-nama seperti Zaiwan di Namang, Yasir di Kurau, Adong di Bukit Peramun, Asror di Dendang, mendiang Akli Sahari di Penyusuk, hingga Budi Setiawan di Batu Mentas disebut sebagai orang-orang yang berupaya membangun kawasan melalui gagasan dan kerja nyata.
Jumlah mereka memang tidak banyak. Namun, kiprah tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan kawasan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Inisiatif masyarakat di tingkat tapak juga dapat menjadi kekuatan penting dalam mengembangkan potensi daerah.
Salah satu kisah yang tidak kalah menarik datang dari Agus Affianto, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang akrab disapa Picoez.
Ia pernah terlibat dalam upaya rehabilitasi kawasan tailing, yakni pasir bekas aktivitas pertambangan timah di Belitung Timur. Kondisi lahan tersebut tergolong ekstrem dan tidak mudah untuk dikembalikan menjadi lahan produktif.
Bahkan, berdasarkan studi yang pernah dilakukan sebelumnya, rumput secara alami diperkirakan membutuhkan waktu hingga sekitar 20 tahun untuk dapat tumbuh di kawasan tersebut.
Baca Juga: Produksi Cocopeat Block untuk Petani dan Penghobi Tanaman: Peluang Usaha dari Limbah Sabut Kelapa
Ketika Lahan Bekas Tambang Bisa Ditanami Semangka
Alih-alih menyerah pada kondisi lahan, Picoez bersama tim dan masyarakat mencoba melakukan rehabilitasi. Berbagai tanaman dicoba, mulai dari cemara laut, semangka, buah naga, kelengkeng hingga sayuran.
Upaya tersebut menjadi contoh bahwa lahan bekas tambang tidak selalu harus dipandang sebagai hamparan tanah mati. Dengan pendekatan yang tepat, intervensi manusia, pengetahuan, serta proses yang berkelanjutan, lahan ekstrem masih dapat diarahkan menjadi lebih produktif.
Kisah tersebut sebelumnya juga dikenal sebagai salah satu contoh bagaimana lahan bekas tambang timah di Belitung Timur dapat dimanfaatkan untuk budidaya tanaman. Sumber lain mencatat bahwa kawasan tailing tersebut memiliki kondisi yang sangat panas dan miskin unsur hara sehingga membutuhkan penanganan khusus.
Picoez sendiri menggunakan ungkapan sederhana ketika menceritakan keberaniannya mencoba menanam di lahan tersebut. Baginya, jika sudah dianggap “orang gila”, maka tidak perlu terlalu takut mencoba sesuatu yang berbeda.
Namun, di balik keberanian tersebut sebenarnya terdapat proses panjang yang membutuhkan ilmu, kerja sama, dan ketekunan.
Belajar dari Kegigihan Nek Inah
Dalam kisah tersebut, Picoez juga menceritakan sosok Nek Inah, seorang perempuan berusia 74 tahun dari Gantung, Belitung Timur.
Nek Inah disebut secara rutin menempuh perjalanan sekitar 10 kilometer pulang-pergi untuk membantu mengurus tanaman di lahan tersebut meskipun upah yang diterimanya tidak tetap.
Ironisnya, ketika tanaman memasuki masa panen, hasilnya justru sempat dipanen oleh orang lain.
Meski demikian, kisah Nek Inah menjadi gambaran penting mengenai arti ketekunan. Sebuah usaha tidak selalu langsung menghasilkan keuntungan. Ada proses panjang yang harus dilewati, termasuk kegagalan, keterbatasan, hingga situasi yang tidak sesuai harapan.
Istikamah Menjadi Kunci
Dari kisah Picoez dan Nek Inah, terdapat satu pelajaran penting, yakni istikamah atau istiqomah.
Istikamah berarti teguh pendirian, konsisten, dan terus berusaha meskipun menghadapi berbagai hambatan. Dalam pengembangan kawasan maupun usaha, sikap seperti ini menjadi modal yang tidak kalah penting dibandingkan uang.
Namun, ketekunan saja tentu belum cukup.
Sebuah usaha juga membutuhkan pengetahuan, keterampilan, jaringan, tenaga kerja, aset, modal finansial, kreativitas, serta kemampuan membaca perubahan dan tren masa depan. Semua unsur tersebut harus berjalan bersama agar sebuah gagasan dapat berkembang secara berkelanjutan.
Jangan Hanya Berpikir tentang Infrastruktur
Dalam pengembangan destinasi wisata, persoalan yang sering muncul adalah keterbatasan modal untuk membangun infrastruktur.
Ketika sebuah daerah mempunyai atraksi wisata yang menarik tetapi fasilitasnya belum memadai, solusi yang sering muncul adalah membuat proposal pembangunan infrastruktur seperti panggung pertunjukan, gapura, tempat berteduh, jalan, toilet, dan berbagai fasilitas lainnya.
Pembangunan infrastruktur tentu bukan sesuatu yang salah. Namun, pembangunan harus memperhatikan aturan, status lahan, karakter kawasan, serta keberlanjutan pengelolaannya.
Misalnya, kawasan hutan maupun sempadan pantai memiliki aturan tertentu mengenai pembangunan fasilitas permanen. Status penggunaan lahan juga harus jelas agar pembangunan yang dilakukan tidak menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari.
Lebih dari itu, fasilitas yang sudah dibangun harus benar-benar dimanfaatkan dan dirawat. Jangan sampai fasilitas yang menggunakan anggaran pembangunan akhirnya terbengkalai dan hanya menjadi “monumen” tanpa manfaat berkelanjutan.
Kreativitas Bisa Menjadi Modal Utama
Kreativitas menjadi salah satu modal penting dalam membangun destinasi maupun mengembangkan potensi daerah.
Contohnya dapat dilihat dari Desa Wisata Pentingsari di Yogyakarta. Desa tersebut tidak mengandalkan atraksi alam yang berada tepat di dalam wilayah desa. Salah satu daya tarik alam yang menjadi bagian dari pengalaman wisata berada cukup jauh dari desa.
Masyarakat kemudian tidak hanya menunggu wisatawan datang. Mereka membangun homestay, mengembangkan berbagai aktivitas, serta menciptakan atraksi lain yang dapat dinikmati pengunjung.
Kreativitas, keuletan, dan konsistensi akhirnya membuat desa tersebut berkembang dan menjadi salah satu rujukan bagi daerah lain yang ingin mengembangkan desa wisata berbasis masyarakat.
Belajar dari Kota Yubari di Jepang
Cerita menarik lainnya datang dari Yubari, sebuah kota di Jepang yang pernah menghadapi persoalan serius setelah industri pertambangan batu bara berhenti.
Pemerintah kota saat itu berusaha mendorong transformasi Yubari menjadi destinasi wisata olahraga ski. Berbagai pembangunan dilakukan dengan pembiayaan utang dalam jumlah besar.
Namun, strategi tersebut akhirnya tidak berjalan sesuai harapan dan Yubari dinyatakan bangkrut pada 2007.
Di tengah kondisi tersebut, salah satu produk yang kemudian menjadi identitas ekonomi kota adalah melon Yubari King, yang dikenal sebagai produk khas daerah tersebut.
Kisah Yubari memberikan pelajaran bahwa pembangunan destinasi tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik. Perencanaan, pengelolaan, kreativitas, sumber daya manusia, dan kemampuan menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan juga sangat menentukan.
“Orang Gila” Tidak Bisa Bekerja Sendiri
Berbagai desa wisata di Bangka Belitung yang mampu bertahan juga menunjukkan pentingnya peran masyarakat.
Biasanya selalu ada seseorang yang berani memulai, mempunyai gagasan berbeda, dan tidak mudah menyerah. Namun, sosok tersebut tidak mungkin bekerja sendirian.
Asror, salah satu penggiat Pokdakan di Desa Dendang, Belitung Timur, menekankan pentingnya kerja bersama. Menurutnya, mereka bukan “superman” yang mampu melakukan semuanya seorang diri.
Karena itu, keterlibatan kepala desa, masyarakat, kelompok, pemerintah, serta berbagai pihak lainnya menjadi bagian penting dari keberhasilan sebuah program.
Kepemimpinan juga perlu dipersiapkan agar sebuah destinasi tidak bergantung kepada satu orang saja. Sebab, ketika sosok penggerak utama pergi, tidak memiliki waktu lagi, atau meninggal dunia, destinasi yang tidak memiliki regenerasi dan manajemen yang baik dapat ikut mengalami kemunduran.
Dari “Kegilaan” Menjadi Inspirasi
Kisah lahan bekas tambang yang ditanami semangka dan berbagai tanaman lainnya pada akhirnya bukan sekadar cerita mengenai keberhasilan bercocok tanam di tanah yang sulit.
Di baliknya terdapat pesan yang lebih luas tentang keberanian mencoba, kreativitas, kerja keras, ilmu pengetahuan, kolaborasi, dan konsistensi.
Istilah “orang gila” dalam kisah ini justru menjadi simbol bagi mereka yang berani melakukan sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil.
Mereka tidak hanya mengikuti tren, tetapi mencoba menciptakan peluang baru dari kondisi yang ada.
Bagi Bangka Belitung, semangat seperti itu menjadi penting di tengah kebutuhan untuk terus mencari alternatif pengembangan ekonomi dan kawasan secara berkelanjutan.
Sebab, mengubah lahan bekas tambang menjadi produktif, membangun desa wisata, maupun mengembangkan destinasi berbasis masyarakat sama-sama membutuhkan keberanian untuk memulai.
Baca Juga: Peluang Usaha Frozen Food Rumahan, Modal Kecil dengan Pasar yang Menjanjikan
Pada akhirnya, bukan hanya keberanian untuk berpikir berbeda yang dibutuhkan, tetapi juga kemampuan bekerja sama, rendah hati, konsisten, dan pantang menyerah.
Seperti pesan yang menjadi penutup kisah tersebut, tidak mudah memang membuat “tambang” kembali menghasilkan kehidupan. Tetapi dengan ketekunan, kreativitas, pengetahuan, dan kerja bersama, sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil dapat mulai tumbuh dan bahkan “berbuah semangka”.
Sumber: Timelines.id, artikel “Orang Gila dan Gali Tambang Berbuah Semangka”, 16 April 2026. Artikel ini ditulis oleh Yan Megawandi dan Rusni Budiati. Informasi tambahan mengenai rehabilitasi lahan bekas tambang diperiksa silang dengan publikasi UGM dan sejumlah laporan media terkait.



