Biografi Pengusaha Sukamdani Sahid

Jiwa Wirausahawan
Uang tabungan itu bukannya dihabiskan seketika dan akhirnya menjadi modal bisnisnya nanti. Dari uang yang ditabung dibelikan ayam lalu diternakan. Setelah ayamnya jadi banyak serta gemuk- gemuk barulah ayam- ayam itu dijualnya.
Di umur 17 tahun kala itu perang kemerdekaan tahun 1945, daerah Sahid kekurangan bahan pangan. Disini ia berfikir bagaimana cara mencukupi bahan pangan untuk para tentara perang. Kala itu walau banyak juga penduduk yang memberi bantuan pangan kepada para tentara namun tentap saja kurang.
Selepas kemerdekaan, tepatnya di tahun 1952, Sahid telah mendirikan bisnis baru yaitu mensuplai bahan pangan kepada tentara. Dia cukup mengumpulkan gaplek dari Wonogiri lalu dibawanya ke Solo, disana gaplek bisa ditukar beras.
Dia diterima bekerja di Kementrian Dalam Negeri selepas melanjutkan pendidikan. Namun rasa gairah untuk berbisnis menggelora membuat dirinya tak betah menjadi pegawai walau hasilnya saat itu cukup menjanjikan dan dipandang terhormat.
Sahid juga yang melakukan antar jemput pesanan cetak dan juga melakukan penagihan. “Naik turun oplet, tak heran saya banyak kenalan non pri,” kenangnya.
Bisnis Perhotelan
Saking banyaknya orderan Sahid harus membagi orderannya ini dengan percetakan lain yang ada di Surabaya, Bandung dan Semarang. Untunglah Sahid juga banyak membina hubungan dengan pengusaha percetakan di luar daerah.
Bisnis yang moncer sepenuhnya ia lakukan dengan paham profesionalitas. Percetakan Sahid akhirnya bisa semakin maju saja dan mesin- mesin pabriknya semakin canggih pula. Dia pun diangkat menjadi Presiden Direktur di perusahaan percetakan yang didirikannya.
sendiri tanpa dirinya turun tangan langsung. Perlu sebuah ekspansi, Sahid tidaklah berpuas diri.
Dia melebarkan sayap bisnisnya dengan
membuka lembaga pendidikan, yaitu mendirikan Akademi Grafika dan Sekolah
Tinggi Grafika di tahun 1965. Sebagai pengusaha tentulah ia sering bepergian ke luar daerah.



